Hari ini aku menjadi siswa di kelas 8 SMP. Aku senang sekali karena bisa naik ke kelas selanjutnya, mungkin berbeda nasib dengan mereka disana yang kurang beruntung. Di kelas 8 ini aku satu kelas dengan sahabatku, Hasyim. Sementara sahabatku yang lainnya, Iyus berbeda kelas dengan kami. Tetapi walaupun begitu kami tetap menjadi sahabat yang akan selalu setia bersama, suka maupun duka.
Ketika kelas 7, aku dan kedua sahabatku itu memilih Pramuka sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Namun, karena di Pramuka kurang seru dan pesertanya juga sedikit dan tidak gokil karena keseringan mereka serius, jadi kami pun memutuskan untuk keluar dari keanggotaan Pramuka di kelas 8 ini. Kami pun sementara tidak mempunyai satu ekskul pun sama sekali setelah keluar dari Pramuka.
Kami bertiga bingung harus memilih ekskul apa di kelas 8 ini. Karena jika kami tidak mempunyai satu ekskul pun, kami terancam tidak akan naik kelas tahun depan. Aku mengusulkan kepada Hasyim dan Iyus untuk mengikuti ekskul Paduan Suara. Namun Hasyim dan Iyus menolaknya karena mereka tidak begitu menyukai dengan musik, apalagi mereka sama sekali tidak bisa menyanyi.
Setelah usulku ditolak oleh mereka, giliran Hasyim yang memberi usul. Hasyim mengajak aku dan Iyus untuk mengikuti ekskul Seni Teater. Sebenarnya aku sempat setuju karena aku suka dengan seni, termasuk Teater. Tetapi Iyus sama sekali tidak tertarik akan hal itu, dia sama sekali tidak bisa bersandiwara di depan banyak orang. Dan sekarang Iyus sendiri yang memberikan usul kepadaku dan Hasyim. Iyus sangat tertarik sekali untuk masuk ke Paskibra, dan itu merupakan usul yang sangat buruk sekaligus berani. Bagaimana tidak, di Paskibra menuntut semua anggotanya harus disiplin, berani, bertanggung jawab, dan tidak neko-neko. Sementara kami semua tidak mempunyai kriteria tersebut, apalagi pembinanya itu yang membuat kami tidak mau masuk Paskibra sejak kelas 7. Pembina di Paskibra sangatlah garang, mukanya seram. Walaupun tubuhnya tak sebesar tentara, tapi dia ditakuti banyak orang di sekolah. Tetapi jika aku melihat-lihat, pembina Paskibra dengan anggotanya terlihat seperti akrab sekali, bahkan sering becanda.
Iyus tetap memaksaku dan Hasyim untuk bergabung ke Paskibra, karena ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk menikmati masa-masa akhir sekolah sebelum tahun depan kami harus mempersiapkan untuk Ujian Nasional. Dan dengan masuk Paskibra ini kita akan bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya. Aku dan Hasyim sempat berpikir-pikir terlebih dahulu, kalau tidak benar-benar dalam mengambil keputusan ini kami semua bisa hancur karena pilihan yang salah. Setelah lama berpikir, aku dan Hasyim pun setuju dengan usul Iyus untuk bergabung dengan ekskul Paskibra yang terkenal dengan pembinanya yang galak itu namun banyak sekali yang tertarik tak terkecuali kami sekarang. Kami yakin dengan pilihan ini, menjadi anggota Paskibra. Iyus pun senang dengan keputusan ini. Sebenarnya aku masih ragu, namun aku harus yakin karena dengan masuk Paskibra aku bisa lebih disiplin dalam menjalani hidup sehari-hari, karena anggota Paskibra harus selalu ada di sekolah setiap pagi sebelum siswa yang lainnya datang (melakukan Apel pagi).
Sebelum kami di terima di keanggotaan Paskibra, kami terlebih dahulu diberi beberapa pertanyaan oleh pembina Paskibra. Apa tujuan kami masuk Paskibra, kenapa tidak memilih ekskul lain, apakah kami yakin dengan pilihan kami, apakah kami sungguh-sungguh atau terpaksa, dan pertanyaan lainnya yang membuat kami sangat gugup dan gemetaran dalam menjawab semua pertanyaan tersebut. Setelah menjawab berbagai pertanyaan dari pembina Paskibra, kami pun akhirnya resmi di terima sebagai anggota Paskibra. Iyus sangat senang, namun aku dan Hasyim merasa bingung harus senang atau sedih. Dan mulai saat itu aku harus memenuhi kriteria sebagai anggota Paskibra yang terkenal tegas dan disiplin.
Di Paskibra, kami diberi jadwal piket untuk membersihkan ruangan perpustakaan dan ruang Paskibra. Kami mempunyai dua ruang, karena pembina Paskibra kami juga merupakan staf dari perpustakaan sekolah. Dan ruang perpustakaan sering menjadi ruang kami untuk berkumpul karena ruang Paskibra sangat kecil dan kurang terurus karena banyak sekali barang-barang sekolah yang ada di ruang Paskibra, belum ada renovasi untuk ruang Paskibra itu. Kami berkumpul setiap hari Senin dan Sabtu, namun jika ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan kami sering kumpul di hari-hari yang tidak ditentukan sebelumnya alias mendadak. Mau tidak mau kami harus mentaatinya, karena jika tidak akan ada konsekuensinya. Untuk anggota Paskibra yang tidak kumpul 3 hari (tidak berturut-turut) karena alasan yang tidak jelas, dia akan langsung dikeluarkan dari keanggotaan Paskibra tanpa ada kesempatan untuk kembali lagi masuk ke Paskibra, dan itu menjadi ancaman kami, terutama aku, Hasyim dan Iyus.
Setiap kumpul, kami harus membawa nasi karena kami akan berlatih keras. Mau hujan atau terik matahari, kami akan terus berlatih. Kami tidak boleh makan menggunakan sendok, jika ada yang terlihat makan menggunakan sendok kami akan kena hukuman yang berat. Dan jika ada anggota yang tidak membawa nasi, dia harus meminta makanan ke semua anggota Paskibra untuk dia makan sendiri. Dan jika ada anggota yang selesai makan dan pada saat itu juga masih banyak anggota yang belum selesai, kami harus membantu mereka menghabiskan makanannya. Sungguh ketat dan berat sekali kami menjalankannya terkhususkan untuk anggota baru seperti kami ini.
Lama kelamaan aku dan Hasyim semakin betah berada di keanggotaan Paskibra ini terlebih banyak sekali wanita cantiknya yang membuat kami semakin betah, namun berbeda sekali dengan Iyus yang terlihat seperti bosan. Padahal Iyus sendiri yang mengajak aku dan Hasyim untuk masuk ke Paskibra. Aku dan Hasyim pun mencoba untuk bertanya kepada Iyus mengapa akhir-akhir ini ia sering mengeluh di Paskibra padahal sebentar lagi akan ada penyeleksian anggota untuk dikirimkan ke kabupaten untuk mengikuti lomba.
Aku dan Hasyim terkejut mendengar penjelasan dari Iyus. Aku tidak menyangka Iyus tidak betah di Paskibra dan ingin segera keluar dari Paskibra, namun dia belum berani melakukannya karena takut dengan pembina Paskibra. Aku dan Hasyim pun menasehati Iyus untuk tidak melakukan hal ini, karena jika keluar Iyus terancam tidak akan naik kelas tahun depan dan tidak akan ada pula ekskul yang berbaik hati untuk menerima anggota baru di pertengahan semester ini. Iyus sendiri yang megajak aku dan Hasyim untuk masuk Paskibra, aku dan Hasyim pun semakin bisa menerima Paskibra dalam hidup kami. Namun Iyus sendiri juga yang ingin keluar dari Paskibra. Aneh sekali menurutku. Iyus beralasan bahwa dia sangat lelah sekali berada di Paskibra karena harus selalu pulang sore daripada murid-murid lainnya, dan terlebih hari Minggu pun anggota Paskibra harus tetap kumpul untuk latihan demi penyeleksian menuju lomba di kabupaten. Iyus pun berkata kepada kami bahwa dia sering dimarahi oleh ibunya karena pulang terlalu sore hampir menjelang maghrib karena rumahnya paling jauh dari aku dan Hasyim. Iyus mengaku kepada aku dan Hasyim bahwa dirinya sangat menyesal masuk Paskibra. Aku dan Hasyim sangat kecewa dengan penjelasan Iyus, dan mulai saat itu pula kami dan Iyus tidak berkomunikasi terlebih dahulu. Di Paskibra, aku dan Hasyim sering berjauhan dengan Iyus.
Ketika pengumuman seleksi untuk lomba di kabupaten, Iyus tidak hadir karena beralasan sakit gigi kepada pembina. Aku dan Hasyim tahu kalau Iyus sedang berbohong. Aku sama sekali tidak menyangka nama tiga anggota Paskibra baru terplilih untuk mengikuti lomba di kabupaten. Ketiga anggota itu tak lain dan tak bukan adalah aku, Hasyim, dan Iyus. Padahal masih banyak yang lebih baik daripada kami. Aku harus lebih giat berlatih untuk menampilkan yang terbaik di perlombaan nanti. Sejak saat itu kami diharuskan untuk berlatih ekstra dibandingkan anggota lain yang tidak terpilih.
Latihan pertama sejak pengumuman itu, Iyus kembali tidak hadir dengan alasan yang sama. Nekat sekali dia berbohong kepada pembina, aku yakin lambat laun pembina akan mengetahui kebohongan Iyus. Saat latihan, barisan tengah pun dikosongkan satu, karena posisi itu milik Iyus yang berpura-pura sakit.
Dan benar dugaanku, pembina mengetahui kebohongan Iyus. Ia sangat murka, kepercayaan yang diberikannya kepada Iyus sangat disia-siakan oleh Iyus. Tanpa basa-basi pembina kami pun langsung mengeluarkan Iyus dengan tidak terhormat, dan pembina Paskibra menyebarkan surat kepada para pembina ekskul yang lain untuk tidak memasukkan Iyus ke ekskul mereka masing-masing. Posisi Iyus di Paskibra untuk lomba digantikan oleh adik kelas kami yang sebelumnya tidak terpilih. Kini Iyus tidak mempunyai satu ekskul pun, dan dia terancam tidak naik kelas tahun depan. Aku dan Hasyim sebenarnya sangat menyangkan hal ini.
Dan benar dugaanku, pembina mengetahui kebohongan Iyus. Ia sangat murka, kepercayaan yang diberikannya kepada Iyus sangat disia-siakan oleh Iyus. Tanpa basa-basi pembina kami pun langsung mengeluarkan Iyus dengan tidak terhormat, dan pembina Paskibra menyebarkan surat kepada para pembina ekskul yang lain untuk tidak memasukkan Iyus ke ekskul mereka masing-masing. Posisi Iyus di Paskibra untuk lomba digantikan oleh adik kelas kami yang sebelumnya tidak terpilih. Kini Iyus tidak mempunyai satu ekskul pun, dan dia terancam tidak naik kelas tahun depan. Aku dan Hasyim sebenarnya sangat menyangkan hal ini.
Waktu pun semakin berlalu, aku gagal mempersembahkan piala untuk Paskibra sekolahku. Namun pembina kami sangat berterimakasih kepada kami atas perjuangan dan semangat yang diperlihatkan saat lomba di kabupaten. Menurutnya, kami bisa lebih baik lagi di perlombaan selanjutnya bulan mendatang. Aku dan Hasyim kecewa dengan hasil ini. Padahal kami sudah yakin bisa membawa pulang piala walaupun hanya piala juara 3. Namun nasib berkata lain. Sejak saat itu, aku semakin tidak semangat di Paskibra. Aku dan Hasyim sering bolos. Dan kami bolos sudah lebih dari 3 hari. Nampaknya sekretaris Paskibra belum melaporkan hal ini kepada pembina, karena aku yakin sekretaris cantik itu tidak rela jika aku dan Hasyim dikeluarkan dari Paskibra. Aku tahu dia sangat menyukai aku sejak aku pertama kali masuk ke Paskibra. Namun pembina Paskibra bernama Krisna itu sangatlah jeli, dia tahu aku dan Hasyim telah bolos lebih dari tiga hari. Namun dia seolah-olah masih memberikan kami kesempatan untuk berubah, namun kami tidak menggubrisnya. Dan suatu saat pembina memanggil kami. Dia berkata baik-baik, bertanya kepada kami mengapa kami begini. Katanya, kami sangat berpotensi sekali di Paskibra. Dan dia masih memberikan kami kesempatan kedua dalam jangka satu bulan ini untuk kembali bergabung dengannya di Paskibra. Aku sama sekali tidak menyangka dengan kak Krisna, ternyata walaupun di lapangan sangat keras dan kejam ternyata dia baik juga seperti yang aku kira dahulu. Dan yang paling mengejutkan lagi, kak Krisna menyuruh kami untuk menyampaikan hal ini juga kepada Iyus. Kak Krisna tidak ingin menjadikan Iyus sebagai korban kekejamannya.
Aku tidak bisa tidur semalaman setelah kak Krisna berkata seperti itu kepada kami. Aku bingung harus bagaimana. Ini kesempatan untuk bisa naik kelas tahun depan, namun jika hati ini sudah tertutup tak akan ada artinya lagi. Meskipun aku tahu ancaman untuk tidak naik kelas karena tidak mempunyai ekskul hanya omong kosong belaka, namun siapa tahu omongan itu memang benar-benar terjadi.
Kini aku dan kedua sahabatku itu seolah-olah tidak mengenal satu sama lain ketika di sekolah. Kami istirahat masing-masing tidak seperti dahulu lagi. Aku memilih untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Begitu pula dengan Hasyim dan Iyus.
Besok adalah hari terakhir kami untuk memutuskan apakah tetap pada pendirian kami untuk keluar dari Paskibra atau kembali menjadi bagian dari anggota Paskibra sekolah yang sangat dihormati. Aku berpikir keras, aku memohon kepada Tuhan untuk meminta petunjuk dariNya agar aku bisa tenang. Aku pun bermimpi ketika tidur bahwa aku dan kedua sahabatku harus kembali masuk ke Paskibra, jika tidak kami akan menyesal. Aku pun terbangun dengan keringat yang mengguyur seluruh badanku.
Hari terakhir pun tiba, ini saatnya keputusan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.28, tinggal dua menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Tak lama kemudian bel itu pun benar-benar berbunyi, jantungku berdebar kencang. Aku sangat tertekan, masa depanku di sekolah ini ditentukan hari ini juga. Aku harus melakukannya, aku yakin aku harus kembali ke paskibra dan tentunya dengan kedua sahabatku. Karena Hasyim satu kelas denganku, aku pun mencoba menghampirinya ketika ia memakai sepatunya hendak pulang. Aku berkata kepadanya kalau kita harus kembali ke Paskibra. Namun dia malah menjawab kalau dia sudah mempunyai tujuan sekolah baru kalau-kalau dia tidak naik kelas tahun depan. Namun aku katakan kepadanya kalau hal itu sangatlah buruk, kita adalah sahabat dan selamanya kita akan selalu bersama. Tak lama kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku gagal membujuknya.
Hari terakhir pun tiba, ini saatnya keputusan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.28, tinggal dua menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Tak lama kemudian bel itu pun benar-benar berbunyi, jantungku berdebar kencang. Aku sangat tertekan, masa depanku di sekolah ini ditentukan hari ini juga. Aku harus melakukannya, aku yakin aku harus kembali ke paskibra dan tentunya dengan kedua sahabatku. Karena Hasyim satu kelas denganku, aku pun mencoba menghampirinya ketika ia memakai sepatunya hendak pulang. Aku berkata kepadanya kalau kita harus kembali ke Paskibra. Namun dia malah menjawab kalau dia sudah mempunyai tujuan sekolah baru kalau-kalau dia tidak naik kelas tahun depan. Namun aku katakan kepadanya kalau hal itu sangatlah buruk, kita adalah sahabat dan selamanya kita akan selalu bersama. Tak lama kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku gagal membujuknya.
Tinggal Iyus yang belum aku temui. Kebetulan Iyus sedang kerja kelompok di kelasnya membuat mading. Aku pun masuk ke dalam kelas tersebut dan mendekati Iyus. Aku berkata kepadanya seperti apa yang aku katakan kepada Hasyim tadi. Dan jawaban dia membuatku semakin kacau. Dia tidak ingin kembali ke Paskibra, dia juga yakin kalau dikeluarkan dari sekolah hanyalah omong kosong. Aku tidak boleh seperti mereka, aku harus melakukannya walaupun hanya sendiri.
Aku segera menuju ke ruang perpustakaan karena kak Krisna pasti sedang ada disana karena ini bukan waktunya untuk kumpul Paskibra. Ketika aku hendak masuk ke perpustakaan, Hasyim dan Iyus berteriak kepadaku. Mereka pun segera menghampiriku, aku sama sekali tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Dan tanpa kusangka, mereka berubah pikiran. Mereka memutuskan untuk kembali masuk ke Paskibra. Dan kami pun segera masuk ke dalam ruang perpustakaan. Kak Krisna sudah tidak ada, kata pengurus yang lain kak Krisna sudah pulang dari tadi. Kami pun terkapar lemas dan begitu kecewa. Kami terlambat, kami tidak bisa memanfaatkan kesempatan kedua itu. Kami pun tergeletak di luar ruang perpustakaan dengan keramik putih yang dingin itu.
Tak lama kemudian, kami mendengar langkah seseorang. Kami pun segera terbangun dari alas keramik itu. Dan ternyata seseorang itu adalah kak Krisna. Ternyata kak Krisna belum pulang, ia pergi dulu ke kamar mandi untuk mandi karena badannya bau dan berkeringat. Kak Krisna pun mengampiri kami dan bertanya kepada kami mengapa ada disini. Kami pun menjelaskan semuanya kepada kak Krisna. Kak Krisna tersenyum lebar, kak Krisna menerima kami kembali untuk masuk ke Paskibra. Ternyata kami belumlah terlambat, kata kak Krisna Paskibra sedang membutuhkan anggota untuk persiapan lomba bulan depan. Dan Paskibra akan mengirimkan tiga wakilnya yang merupakan hampir semua anggota Paskibra dilibatkan. Dan menurutnya kami sangat pantas dan berpotensi untuk ada di posisi itu untuk lomba. Kami sangat senang dengan pernyataan kak Krisna, kami seperti bermimpi padahal tidak. Pembina Paskibra yang begitu kejam ternyata memang benar-benar baik. Kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami harus memberikan yang terbaik bagi Paskibra dan sekolah. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan kami dahulu. Dan sejak saat itu aku, Hasyim, Dan Iyus kembali bersama lagi sebagai sahabat sejati. Dan selamanya pula kami akan tetap selalu bersama sebagai sahabat, suka maupun duka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar