Mawar, itulah namanya. Gadis malang yang tak pernah ke luar dari kamarnya. Sebenarnya terlalu kasar jika dikatakan “Malang” karena dia punya segala yang dia mau.
Gadis cantik yang bahkan membenci namanya sendiri itu lahir di keluarga kaya raya. Anak kedua dari dua bersaudara itu mempunyai orangtua pekerja keras. Orangtuanya ingin anaknya bahagia dan tercukupi segala keinginannya. Sementara kakaknya, Doni. Sosok kakak yang baik dan juga penyayang.
Hanya satu yang tidak bisa Mawar dapatkan yaitu kedua kaki yang sempurna. Selama hidupnya. Bukan, tepatnya setelah ia mengalami kecelakaan dua belas tahun silam. Dia tidak bisa menapakkan kakinya untuk berjalan.
Saat itu hujan deras disiang hari tak henti hentinya turun. Suara petir menyambar disana sini membuat Mawar kecil yang saat itu berusia lima tahun menangis karena ketakutan. Mawar menangis dan memanggil manggil ibunya. Padahal sang ibu masih di kantor.
Tidak tega melihat mawar menangis, pak Tanto supir pribadi di rumah Mawar bertekad mengantar Mawar ke tempat ibunya bekerja. Menerjang hujan dan licinnya jalanan pak Tanto lakukan demi anak majikannya.
Derasnya air hujan menjadikan jarak pandang berkurang, tanpa pak Tanto sadari mobil di depan pak Tanto mengalami kecelakaan. Pak Tanto banting setir dan berusaha menghindari kecelakaan beruntun. Namun naas mobil terbalik, Pak Tanto tewas di tempat dan Mawar selamat meskipun mengalami luka yang cukup parah.
Luka itu masih tersayat dalam di hati Mawar. Ingatan itu menjadi mimpi buruk yang ingin dia lupakan. Setelah kecelakaan, kaki Mawar tidak bisa kembali normal, dan dia lumpuh. Dia harus menjalani hidup di atas kursi roda.
Tujuh belas tahun sudah usia Mawar, sama seperti perayaan ulang tahun sebelumnya, ulang tahunnya hanya dirayakan bersama kedua orangtuanya dan kakaknya. Tidak ada satupun teman yang diundang, karena Mawar tidak punya teman. Permintaan mawar tak pernah berubah, seperti permintaan Mawar di tahun tahun sebelumnya. Mawar hanya ingin bisa berjalan kembali.
“Maaf om tante saya telat,”
Suara itu membuat Mawar urung meniup lilin ulang tahunnya. Dia menoleh, ditatapnya perempuan yang sebaya dengannya berdiri sambil memeluk sebuah kado yang terbungkus rapi.
Mawar ingat, dia anak tetangga sebelah yang baru pindah beberapa hari lalu. Melati melihatnya saat dia tengah duduk di teras rumah. Mamanya sengaja mengundangnya sebagai tanda perkenalan.
Suara itu membuat Mawar urung meniup lilin ulang tahunnya. Dia menoleh, ditatapnya perempuan yang sebaya dengannya berdiri sambil memeluk sebuah kado yang terbungkus rapi.
Mawar ingat, dia anak tetangga sebelah yang baru pindah beberapa hari lalu. Melati melihatnya saat dia tengah duduk di teras rumah. Mamanya sengaja mengundangnya sebagai tanda perkenalan.
“Hai, aku melati” gadis bernama melati itu mengulurkan tangannya. Namun Melati tak bergeming, dia hanya menatap dingin tanpa membalas uluran tangan Melati.
Mawar dan Melati entah takdir atau hanya sebuah kebetulan. Keduanya memiliki nama dari sebuah bunga yang melambangkan arti cinta sejati.
Semenjak hari itu, Mawar lebih sering meluangkan waktunya untuk Mawar. Awalnya bukan hal mudah bagi Melati untuk meluluhkan hati Mawar. Melati hanya ingin menunjukkan sisi lain dari dunia yang Mawar belum lihat. Melati tak pernah menyerah sampai akhirnya Mawar sadar Melati benar benar tulus berteman dengannya tanpa mempedulikan ketidak sempurnaan dalam dirinya.
Mawar akhirnya ke luar dari saranganya, Uppss bukan maksudnya dari rumahnya. Melati dengan setia mendorong kursi roda Mawar kemanapun Mawar inginkan.
Mawar akhirnya ke luar dari saranganya, Uppss bukan maksudnya dari rumahnya. Melati dengan setia mendorong kursi roda Mawar kemanapun Mawar inginkan.
Hingga akhirnya, Melati menawarkan agar Mawar sekolah di tempatnya sekolah saat ini. Agar Mawar juga punya kehidupan seperti orang normal lainnya. Karena selama ini Mawar mendapat pendidikan di rumah, dia mengundang guru untuk datang ke rumahnya.
Awalnya Mawar menolak, karena ia takut bertemu orang orang asing yang belum pernah ia temui. “Semua akan mudah jika kamu terbiasa” ucapan Melati seakan meyakinkan Mawar. Melati sendiri janji akan selalu ada untuk Mawar.
Mawar pun sekolah di tempat Melati selama ini menimba ilmu. Kedua orangtua Mawar pun sudah menyetujuinya.
Hari pertama masuk Sekolah ternyata semua tidak seindah yang Mawar bayangkan. Mimpi-mimpi buruk yang selama ini hanya hadir dalam tidurnya, kini hadir di dunia nyata. Cacian dan hinaan tak henti hentinya menerpa Mawar. Namun Melati berusaha agar Mawar tetap tegar.
Hari demi hari Mawar lewati, tetapi semua itu tetap tidak berubah. Mawar akhirnya menyerah dan tidak mau lagi sekolah. Dia kembali ke dunianya yang dulu, dunia kesendiriannya. Berhari hari Mawar tidak mau menemui Melati bahkan dia mengurung diri dari siapapun.
Melati sendiri tidak sanggup didiamkan Mawar. Dia nekat mencari mawar di rumahnya tanpa sepengetahuan siapapun.
Melati sendiri tidak sanggup didiamkan Mawar. Dia nekat mencari mawar di rumahnya tanpa sepengetahuan siapapun.
Di halaman belakang rumah Mawar, tepatnya di bawah sebuah pohon rindang. Melati mendapati Mawar tengah sibuk dengan Kanvas dan Alat melukis. Melati menghampiri Mawar yang tak menyadari kedatangannya. Di meja bundar yang berada di dekat Mawar, terserak gambar dan lukisan yang begitu indah.
“Kamu ngapain disini? Mau menghina aku juga?” tanya Mawar sinis saat menyadari kedatangan Melati. Tetapi Melati tak menghiraukannya, dia sibuk terkagum kagum dengan semua gambar dan lukisan karya sahabatnya itu.
“Dasar, semua orang sama saja!!” Mawar meninggalkan Melati dengam perasaan marah.
“Kamu kenapa sih, nyerah? iya?” tanya Melati setengah teriak.
Mawar berhenti, dan memutar balik kursi rodanya. Dia menatap Melati sengan tatapan tak mengerti.
“Setelah semua yang kamu lakukan, terus kamu nyerah begitu saja?!!” tanya Melati lagi.
“Memangnya apa yang bisa diperjuangin orang cacat seperti aku?!” tanya Mawar setelah mengerti maksud ucapan Melati.
“Aku tahu kamu marah sama keadaan”
“Memang apa yang kamu tahu, kamu tidak pernah merasakan hidup seperti aku, yang setiap harinya hanya duduk di atas kursi roda. Orang lain melihatku bagai barang rusak yang tidak berguna. Mereka menghinaku dengan cacian kotor yang menyakitkan!!” Air mata Mawar perlahan jatuh mendarat dipipi.
“Tapi aku pernah merasakan rasanya dihina orang lain,”
“Dihina? Mana mungkin! Fisik kamu sempurna apa yang bisa orang lain hian dari diri kamu??”
“Tidak ada manusia yang terlahir sempurna! kamu hanya bisa melihat satu kelebihan dalam diriku tanpa kamu pernah lihat betapa banyak kekurangan yang aku miliku”
Mawar tertawa sinis
“Memangnya apa kekurangan kamu?!”
“Memangnya apa kekurangan kamu?!”
“Saat aku kecil orang orang selalu mengina cara berjalanku yang aneh, orang bilang bentuk kaki aku seperti huruf “O” Bahkan aku sering terjatuh karena kaki aku sendiri”
“Hanya itu?! Setidaknya kamu harus bersukur, kamu masih bisa berjalan bahkan berlari”
“Iya ucapan kamu benar. Tapi tidak hanya itu, lihat lukisan dan gambar ini. Kamu tahu? Aku paling benci pelajaran menggambar! Kenapa? karena aku aku sama sekali nggak bisa menggambar. Dari kecil sampai sekarang aku hanya bisa menggambar gunung,”
“Melihat fisik kamu, tidak ada yang peduli kamu bisa menggambar atau tidak”
“Aku sering mendengar kamu menyanyi, suara kamu itu sangat merdu. Sama halnya seperti menggambar aku juga tidak bisa menyanyi. Suara aku sangat jelek, mungkin kalau aku menyanyi dinding dan kaca akan retak dan juga pecah”
Mawar hanya terdiam mendengar ucapan Melati.
“Sekarang kamu tahu kan, betapa banyak kekurangan dalam diri aku” Melati menghampiri Mawar dan memeluknya.
“Sekarang kamu tahu kan, betapa banyak kekurangan dalam diri aku” Melati menghampiri Mawar dan memeluknya.
“Setiap manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangan masing masing. Tinggal bagaimana caranya kita menutupi kekurangan kita dengan kelebihan yang kita miliki” ujar Melati setelah melepas pelukannya.
“Terimakasih kamu udah jadi sahabat aku, tanpa kamu mungkin aku sudah hilang arah dan tersesat”
“Itulah arti sahabat yang sesungguhnya, menjadi penuntun sahabatnya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar