Minggu, 27 November 2016

all about friend

Pernah nggak sih kalian punya temen yang gilanya lebih dari orang-orang yang tiap hari tinggal di rumah sakit jiwa? Kalau aku pernah. Dan bahkan aku sendiri terlibat di dalam kegilaan itu. Kita berlima, dengan empat spesies yang cantik, aku, Shely, Ria dan Lia serta satu lelaki terspesial, Ardie.
Semuanya berawal dari hari pertama kali kuliah, setelah kita ngelewatin banyak kegiatan melelahkan. Mulai dari pendaftaran, tes tertulis, tes wawancara, ospek, dan masih banyak lagi. Awalnya kita nggak pernah ketemu dan nggak kenal sama sekali. Secara kebetulan kita ditempatin di kelas yang sama. Nah di kelas ini semuanya berawal. Sempat terjadi sinis-sinisan saat kita saling menatap. Entah kenapa, mungkin karena kita saling merasa tersaingi.
Semua orang sibuk, ada yang kenalan, mengeluh, bergosip, bahkan selfie. Dan aku termasuk di salah satunya. Seseorang menyindir dengan keras, tapi aku abaikan, mungkin dia sirik. Masuk di mata kuliah kedua, tempat duduk kita berdekatan. Seseorang dari kita mulai berkenalan duluan. Suasana mencair, aku ingat suaranya, dialah yang menyindirku dengan suara keras di mata kuliah pertama tadi. Namanya Ria, dengan badan tinggi berisi dilengkapi rambut yang panjang dan lurus, entah berapa lama dia memanjangkan rambut itu. Kita mengobrol dan aku tidak mengerti bagaimana bisa kita tiba tiba selfie bersama.
Pulang kuliah di hari pertama, aku dan salah seorang dari kita yang sudah menjadi kenalanku sejak SMA pulang bersama. Dia Shely, satu satunya temanku yang selalu mengeluh gendut padahal sudah terlihat kurus, badannya paling seksi, dengan rambut pendek sebahu. Aku berniat untuk tidak pulang ke rumah terlebih dahulu. Maklum saat itu jiwa-jiwa SMA kita masih kuat. Muncullah Ria bersama salah satu dari kita. Lia, badannya paling subur, rambut ikal tetapi tak terlihat karena berhijab dengan sifat keibuan. Bagaimana aku bisa tau rambutnya ikal jika dia berhijab? Karena saat awal kuliah dia belum berhijab, rambut ikalnya terlihat sebatas bahu. Salah satu dari kita mengusulkan untuk ke rumah Ria jika belum mau pulang ke rumah. Semua setuju.
Di rumah Ria kita saling mengakrabkan diri, bertanya lebih ke hal yang bersifat pribadi. Entah kenapa aku bahkan melupakan konflik tentang menyindir dan kurasa kita cocok.
Kuliah hari kedua, kita sudah saling mengakrabkan diri, kita berempat berkumpul bersama di kantin kampus. Tiba-tiba salah satu dari kita muncul. Ya satu-satunya gender berbeda di antara kita, Ardie. Keras kepala, sulit berteman, berjiwa pembangkang tapi bisa bersikap lembut dan terkesan imut saat sedang ada perlunya. Ya dia satu satunya lelaki di antara kami, dan terkadang dialah yang sering bersikap sok manja. Saat itu fakta baru ditemukan. Ternyata Ria, Lia dan Ardie adalah saudara sepupu. Wajar jika mereka terlihat lebih dekat. Dan yang lebih mengejutkan lagi banyak yang mengatakan bahwa aku dan Shely adalah kembar. Karena pada saat itu rambut kami sama-sama pendek sebahu.
Oke, aku rasa cukup untuk flashbacknya. Sampai saat ini kita sering menghabiskan waktu bersama, ke kantin, hang out, berenang, ngerjain tugas, nge-trip, ngegosip, ngetawain orang lain, dan banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan disini. Kita itu sama, selera humor kita tingkatnya sama, sesuatu hal kecil yang bahkan orang lain tidak mengerti dimana letak kelucuannya tetapi kita bisa, kita tau dimana lucunya. kita bahkan sering tertawa dengan keras di sebelah orang yang kita tertawakan. Kita mengeluarkan cerita yang bersifat pribadi dengan suara nyaring, dan akhirnya satu kelas bisa tau bagaimana jalan cerita cinta kita, bahkan tau masalah apa yang kita hadapi dan tau nama pacar kita saat itu siapa, walaupun mereka tidak tau orangnya seperti apa.
Banyak dari mereka yang mengatakan “kok kalian kayak anak SMA sih, yang kemana-mana selalu sama-sama, kayaknya teman kalian cuma itu-itu aja” emangnya salah ya? Emang kalau kuliah nggak boleh gitu temennya kesana sini sama-sama? Sebenarnya ini tergantung dari orangnya, selama kita nggak keberatan buat kayak gini ya nggak masalah, setiap orang kan beda-beda.
Mungkin banyak juga yang bilang kalau keseringan sama-sama jadi nggak punya kepribadian. Itu salah besar, kita punya banyak kesamaan dan kita juga punya sifat unik masing masing yang bisa saling kita terima. Ria itu orangnya nggak pernah mau disalahin dan kita tau itu, jadi kalau udah berdebat sama dia ya mendingan ketawain aja, ujung ujung juga dia nggak jadi marah. Shely orangnya suka sensi, sensi sama orang lain tapi dilampiasin kemana-mana, kalau udah gitu ya mending diam aja, ntar dia juga bisa baik lagi. Kalau Lia orangnya banyak tanya, satu kata aja bisa menimbulkan sekitar 11 atau 12 pertanyaan, ya disabar sabarin aja jawabnya. Ardie itu pilih kasih. Misalnya dia punya permen banyak trus dipamerin tapi yang dikasi dia permen cuma 1 orang, yang 3 lainnya nggak, nampak banget nggak sih?

chemistri cinta adit

“Fire, fire, fire dduduudduuud” suara BBM adit terdengar. dia masukan nomor kode HPnya dan membuka BBM, ternyata dia adalah ely nurjannah yang akrab dipanggil kak elen. Adit temukan Kak elen di BBM secara tak disengaja. Awalnya adit hanya iseng-iseng berhadiah, tapi lama kelamaan mereka berdua mulai akrab. Tak jarang kak elen ngajak adit ketemuan di alun-alun rangakasbitung, tak jarang pula adit menolaknya.
Hari demi hari berlalu adit dan kak elen semakin dekat. Pagi, siang, sore dan malam mereka berdua selalu BBMan. Usut demi usut ternyata adit menyimpan rasa kepada kak elen. Seringakali adit membicarakan kak elen kepada sahabat-sahabatnya yaitu Handi dan kepadaku.
“Woi ane tadi jalan sama cewek”. kata adit
“Jalan sama siapa” tanyaku
“Sama kak Elen.” Ucap adit
“Kak Elen yang mana?” Tanya handi
“Temen ane di BBM”
“Owuh gitu ya..” Kataku
“Yoi” adit tersenyum
“Ya udah, makan-makan yu bro!” Handi mengajak
“Siap ih..” Seruku
“Berangkat” kata handi
Aku dibonceng si handi sedangakan adit sendiri, di sepanjang perjalanan kami, kami bertiga berjalan sambil ngobrol serasa dunia milik kami bertiga. Setiap detik kulalui bersama sahabat serasa berharga, Tak jarang kami bertiga tertawa bersama. Berjalan, berjalan dan berjalan kulalui bersama sahabat-sahabatku, begitu indahnya hidup ini kulalui bersama sahabat.
Suatu ketika kak elen berpindah rumah ke citorek timur. karena sekolah libur, aku dan handi diajak adit untuk ke rumah kak elen. Perjalanan kami begitu berkesan sekali, panas teriknya matahari tak membuat kami patah semangat. Kami terus berjalan dan berjalan hingga lelah letih. Percikan demi percikan air hujan mewarnai perjalanan kami. Sekian lama perjalanan tiba-tiba temen aku jatuh, kebetulan kak elen ngeliat dan nanya
“Ih kenapa?” Tanya kak elen
“Cuma akting kak” kataku dan adit
“Oh…” Nganggukin kepala dan nutup pintu
Perjalan terus kami lanjut ya.. meski hujan badai menerpa kami.. wiih gila bahasanya zzz… Tak lama kemudian ada sebuah tanjakan dan si adit salah ngoper gigi, untung cuma salah ngoper gigi coba salah ngoper bola kan bisa berabe tar lawan bisa masukin bola. untungnya lagi si adit gak papa, coba aja tanganya patah, palanya bocor pasti seru.. cuma bercanda. Kebetulan kak Elen juga lihat adit jatuh
“Sayang kamu gak papa kan?” Kata kak elen
“Iya sayang aku gak papa” kata adit
Dan percakapan di atas hanyalah imajinasi doang, yang sebenernya
“Adit kenapa?” Kata kak elen
“gak papa ka..” Kata adit
“Iyah kak cuma akting.” Kataku dan handi
Brem… brem… brem… motor si adit dan handi menanjaki perbukitan melewati persawahan dannn… gol…
Selang beberapa menit kami bertiga sampai di rumah kak elen. kami bertiga membantu membawakan bantal-bantal kak elen, rak-rak piring, baju-baju kak elen sampai orangtuanya kami bawa… Bawa masuk rumah maksudnya.
Akhirnya semua sudah selesai, waktunya untuk buka baju, buka celana dan… mandi.. ngeres aja pikiran lo. Setelah kami bertiga mandi bergiliran, kak elen nyuruh kami untuk makan.
“Ini untuk handi…”
“Ini untuk marwan..”
“Ini untuk adit… “Gila pas adit nasinya banyak banget, lah aku sama si handi dikit doang, ya mungakin karena kak elen sayang kali sama si adit.
Setelah makan dan kenyang, kami ngobrol-ngobrol sama kak elen, bukan kami sih cuma si handi sama si adit doang, aku mah tidur.
Subuh pun tiba, ini waktunya sholat subuh, aku segera membangunkan teman-temanku
“Woi…woi…woi bangun” aku ambil bantal dan mukul si adit
“Bro… bro.. bro.. udah subuh bro” kata aku sambil ngegerakin tubuh si handi. Sebenernya sih.. si handi udah bangun aku cuma iseng aja. Setelah mereka bangun kami bertiga pun perang bantal dan tidur kembali. Kampreet bukannya pada sholat nih temen-temen.
Malam berganti siang, aku si handi, si adit, kak elen berniat untuk berkunjung ke curug tujuh. Dari namanya curug tujuh yang aku liat curugnya cuma ada lima, au ah gelap. Kami sarapan terlebih dahulu
“Ini minum dulu susunya dapet meres langsung dari sumbernya” (kak elen megang-megang anunya)
“Iya kak” kami bertiga menjawab
Akhirnya kami berangakat, aku dibonceng si adit, si handi sendiri dan kak elen dibonceng sama… siapa kali aku lupa namanya. Di sepanjang perjalanan kak elen gak tau error gak tau korslet? dia bilang “Aww… aww… aww. ikkheeeh.. ikhheeh kimochi..”
Di jalan pula kak elen selalu ngasih kode
“Nih dit kakak mah dulu suka digendong di sini.” Kata kak elen
“Heemm… hemm… hemm… cek.. cek.. cek.. beltrack” itu yang aku sama handi katakan
“Ehm… kode..” Kataku
Tetapi si adit gak peka-peka, dia terus berjalan dan berjalan. sejauh kaki melangakah.. wih kata katanya… si adit sama kak elen berjalan berdua.. cieee… hem cek beltrack. Alhamdulillah Sampai juga di curug tujuh.
Aku sama si handi langsung turun ke bawah dan mandi, abis itu makan-makan yang ringan, sebenarnya di situ ada makanan yang berat sih kaya batu gitu tapi aku males makanya dan setelah itu kami pulang. Setelah dari curug kami istirahat sebentar, dan kembali jalan-jalan. Kali ini kak elen dibonceng sama si handi, kak elen sempet nanya-nanya tentang si adit ke si handi, kak elen juga sempat suka sama si handi. Ya maklum lah.. si handi udah mah baik, sholeh, perhatian lagi. Kata si yolie doang sih karena si yoli pacar si handi. Ternyata eh ternyata adit cemburu ngeliat si handi sama kak elen, sampai-sampai si adit nulis “datang ke sini pengen ngobrol, tapi kakak malah akrab sama handi.” Ya ampuuun lebay banget dah. Karena cuaca mulai mendung dan jam udah setengah tiga akhirnya kami pulang. Untuk yang ke dua kalinya, kami bertiga kembali ke rumah kak elen. Tapi kali ini suasana agak berubah ketika kak elen bilang “adit kenalin ini calon suami kakak”. tiba-tiba adit jadi kayak gimana gtu…
Woi kalo ojek suka kayak gini.. breem.. breem.. brem (adit pake helm tapi helmnya di kebelakangin). Aku sama si handi cuma bisa ketawa
“Bhbbhb, Wang liat geh si adit prustasi” tutur si handi
“Biarkan dia punya kahayang” kataku
Aku sama si handi cuma bisa ngelihat tingakah laku si adit yang aneh.. ya ya ya namanya juga cinta, bodo ah i dont care mending aku tidur. Aku sama si handi tidur, sedangakan semalaman adit gelisah memikirkan ucapan kak elen (leebayy). Akhirnya aku dan handi bangun tapi kak elen teriak-teriak “sayang anak sayang anak”. eh salah “adit mana, adit mana.. di jonggol.” gak gitu sih cuma bercanda. Si adit ngilang pergi entah kemana bagai ditelan bumi. Akhirnya aku bersama handi mencari dan mencari hingga hilang pedih perih, dan aku lebih tidak peduli, aku mau hidup seribu tahun lagi. Malahan nyambung ke puisi chairil anwar.
Aku bersama handi berjalan menyusuri jalan setapak hingga kami temukan sosok misterius yaitu… “Temen kami sendiri.. adit”. Adit ngajak pulang tapi kami masih pengen berjalan dan foto-foto. Ya udahlah apa boleh buat setelah itu kami pulang. Tapi setelah pulang aku juga gak tau sih si adit sama si handi lagi ada masalah apa? tapi tentang foto-foto gitu.. kata handi yang cerita ke padaku. Akhirnya aku diajak si adit kembali ke rumah kak elen dengan alasan.. ya… kangen… mungakin. Setelah sampai di rumah kak elen, si adit nanya-nanya tentang foto-foto.. foto apa kali.. auh ah gelap. Suasana hikuk pikuk pun terjadi ketika kak elen beradu cakap dengan adit.
“Kak bilang apa ke si handi” kata adit
“Bilang apa, dit” jawab kak elen
“Soal foto itu, kak”
“Foto apa? Kakak mah gak ngerti.. beneran” jelas kak elen.
“Foto yang dikasih sama si handi..” Adit tanya kembali
“Heh foto yang mana adit?” Kak elen heran dan nerusin ucapanya “coba kakak telepon si handi”. liiuu… llliuuu.. lliu.. kak elen telepon handi
“Hallo kak” kata si handi
“Handi ini si adit fhoto apa sih?” Kata kak elen
“Foto apa kak? handi mah gak ngerti?” Handi bertanya-tanya
“Tau ni si adit foto dari handi bilangnya.”
“Yang mana kali…”
Kak elen tidak tahu si handi pun juga tidak tahu.. Akhirnya mereka berdua meninggal. Becanda, akhirnya kak elen menutup teleponya. “doooorr”. Gak lama kemudian adit bersamaku pulang dan sesampainya pulang… Apa yang terjadi? mereka berdua musuhan. Adit mengira kalau si handi merebut kak elen darinya, tapi kenyataanya bukan. Si handi deket sama kak elen bukan berarti si handi suka, justru si handi disuruh kak elen memata-matai si adit karena kak elen suka sama si adit, kak elen takut si adit deket sama cewek lain.
Berhari-hari adit dan handi bermusuhan, si handi sengaja tidak memberitahukan ini sama si adit karena aku juga gak tau apa alasannya. tapi si handi menceritakan semua kejadian ini kepadaku. Di sisi lain si adit juga menceritakan kejadian ini kepadaku.
“Si handi tega banget udah ngerebut kak elen. padahal dia udah punya si yoli” adit curhat
“Iya dit tega banget ya si handi..” Aku tersenyum dan hatiku ketawa
“Temen apaan coba yang kayak gitu.” Tutur adit
“Hemm bener dit” ku anggukkan kepala dan hati terus tertawa
Mereka berdua terus musuhan hingga pada suatu hari aku menyuruh adit ke rumah si handi untuk mengajaknya sholat jumat bersama. Mereka pun semakin akrab dan sekarang kami bertiga bersahabat lagi seperti dulu.
The End

gara gara cinta

Malam yang sunyi dan indah, terdapat bintang-bintang yang menghiasi langit dan bulan yang menyinari bumi. Nama aku marwan santosa siswa smkn 1 rangakasbitung. Aku tinggal di kota banten daerah rangakasbitung. Kota banten dikenal orang adalah kota yang indah, sejuk dan nyaman.
Suatu malam yang cerah, Ku menyusuri jalan untuk menemui sahabat-sahabatku. Tak lama kemudian Aku sampai di rumah salah seorang sahabatku, kami terbiasa berkumpul disana bercanda dan bersenda gurau. Tapi di sela candaan kami ada seorang sahabatku yang ditelepon pacarnya yaitu si handi santosa
“Hallo, sayang lagi dimana?” Kata yolie pacarnya
“Lagi sama temen sayang.” Jawab si handi
“Sayang jalan yuk!” Yolie ngajak jalan
“Ya udah sayang, bro gua duluan ya..” Kata si handi
“Hmmm kumat, ya udah sana” kataku dan adit
Kemudian si handi ninggalin aku sama si adit. Biasanya setiap malam kami selalu bertiga, kemanapun kami pergi kami selalu bertiga, tapi kali ini kami berdua. Tidak apa-apa meski hanya berdua masih tetap seru. Malam itu juga aku bersama adit berjalan mengendarai motor ke sebuah tempat untuk membeli “dogung (dog gulung)” kami berdua patungan untuk membeli dogung tersebut. Sekian lama menunggu akhirnya dogung kami dapatkan. Setelah itu kami beranjak untuk kembali ke tempat biasa, kami sering menyebutnya “Bangaku Sidang”. Di sepanjang perjalananku bersama adit, aku melihat banyak orang-orang yang berpacaran hampir di setiap trotoar jalan. Lima menit berselang aku dan adit sampai di bangaku sidang. Kami duduk sambil membuka sambal untuk dogung kami. Sambil bercakap-cakap kami membicarakan perjalanan kami tadi.
“Wih gila hampir setiap trotoar gua liat orang lagi pacaran dit” kataku.
“Iyah, tadi gua juga liat.” Kata adit
“Sabar ya ALLAH, gini nasib orang jones mah.” Kataku
“Hahahah. nasib nasib..” Kata adit
“Zzz. ok kita serang makanannya” kataku
“Serang…” Kata adit
Setelah makan-makan dan bercanda, aku pergi ke mushola untuk mengaji. Di mushola bukanya ngaji, aku malahan ngecas HP karena hp aku lowbet. Adit langsung ambil wudhu dan ngaji. Sesekali kami ngaji bergantian. Selain ngaji aku juga pinjam HP adit untuk bermain COC (class of clans). Setiap lima belas menit sekali, aku meminjam HPnya untuk menyerang dan UPGRADE tempat.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 03.00 wib, kami beranjak untuk pulang ke rumah. Di rumah aku tidak tidur, aku menonton tv sendiri. Karena waktu itu ada film yang lucu yaitu “WARKOP DKI”. Waktu pun berjalan melingakari jam, film tersebut tak kunjung selesai. Malam berganti siang, Aku mencoba untuk tidur sekalian menjaga kesehatanku agar tetap sehat dan tidak sakit.
Kring kring kring HP ku menyala, kulihat ternyata Mega Widya. Mega adalah temanku, aku sering memanggilnya chagia
“Pagi marwan.” Chagia menyapaku
“Pagi juga.” Jawabku
“Lagi ngapain.” Dia bertanya padaku
“Lagi tiduran.”
“Masih ngantuk?” Dia tanya lagi
“Iya chagi.” Kataku
“Ya udah tidur lagi giiih.” Dia menyuruhku tidur
“Aku tidur ya chagi..”
“Iyh. sweet dream ya..”
“Iya chagi.”
Aku pun tidur kembali, dan bangun pukul 10.38. Setelah bangun, Ku segera beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan tubuh. Setelah mandi aku makan dan sholat dzuhur. Kemudian aku kembali bermain bersama adit, aku datang ke rumahnya dan kami kembali ke masjid untuk ngobrol sambil ngecas di sana. Kring kring kring handphoneku kembali berbunyi, chagia sms
“Marwan lagi ngapain?”
“Lagi duduk.”
“Sama siapa?”
“Sama temen.”
“Ouwh, kamu udah makan belum?”
“Udah kok chagi.”
“Bagus deh kalo gitu ”
“Iya chagi.. oh iya chagi aku boleh nanya gak?”
“Mau nanya apa marwan?”
“Kalo misalnya ada yang suka sama kamu, gimana chagi?”
“Ya perjuangin cintanya”.
“Chagi, kalo orang tersebut nembak kamu, kamu terima dia gak?”
“gak tau”
“Owuh gitu ya chagi…”
“Iyah”
“Chagiii…”
“Iya apa.”
“Aku mau kamu jadi orang spesial buat aku.”
“Spesial maksudnya teman atau pacar marwan?”
“Aku ingin ada yang mengikat kita yaitu “cinta”. kamu mau gak, aku gak maksa kok.”
“Iya”
“Kamu mau gak jadi pacar aku chagi?”
“Iya aku mau kok”
“Makasih udah terima cintaku”
“Iyah sama-sama”
“Ya udah aku main dulu ya sama temen aku… sayang…”
“Iya sayangaku”
Setelah aku dan chagi jadian, hubungan kami baik-baik aja dan tidak ada masalah apapun. Tapi aku merasa kasihan sama sahabatku Adit, karena si handi sudah punya pacar begitupun aku. Maka dari itu aku membantunya mencari pacar. Akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang bernama ayu, dia cewek yang baik dan polos. Awalnya mereka cuma teman biasa, tapi aku menyuruh adit untuk menjadikanya pacarnya. Adit mulai PDKT sama ayu, tapi dia selalu mengajaku untuk menemaninya, sebagai sahabat aku ikut aja selama sahabatku bahagia.
Suatu malam adit mengajakku untuk bertemu dengan ayu, dia berniat untuk nembak ayu malam itu juga. Mereka berdua janjian di pasir putih, adit terus menunggu ayu sampai 12 malam, ayu pun tak kunjung datang juga. Akhirnya adit mengajakku pulang karena sudah bosan. Keesokan harinya tiba-tiba handphone adit menyala, adit langsung melihatnya tak disangaka ayu yang sms. Mereka berdua ngobrol-ngobrol seperti biasa tetapi tiba-tiba secara mengejutkan ayu nembak adit. Adit terkejut seribu bahasa dan hanya bilang iya dan iya saja. Setelah itu mereka berdua akhirnya berpacaran, dan mereka mulai bahagia.
Hari demi hari pun berlalu, yang tersisa hanya aku dan adit, kami berdua masih bermain bersama, tetapi sesekali pacar-pacar kami sms. lama kelamaan persahabatan kami mulai diambang kehancuran, si handi sibuk dengan yoli, si adit sibuk dengan ayu dan aku sibuk dengan chagia. Kami jarang bertemu, jarang makan-makan lagi, jarang ngobrol dan bercanda lagi seperti dulu. Ini semua Gara Gara Cinta

sahabat yang kurindukan

Namaku Vania aku mempunyai seorang sahabat bernama Jihan dia baik, cantik dan juga pintar aku memang baru mengenalnya tapi dia sosok sahabat yang baik yang pernah aku kenal. Saat pertama kali aku bertemu dengannya dia membantu masalah yang aku alami waktu itu dia menolongku untuk keluar dari masalah yang aku alami. Dia satu sekolah denganku dan juga sekelas tentunya. Setiap jam istirahat kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kadang aku menjadi sesorang yang gila saat aku bersamanya, tertawa bersama melakukan hal-hal seperti layaknya anak kecil bermain petak umpet dan lain sebagainya padahal umur kami sudah belasan tahun tapi kami menjadi kekanak-kanakan saat kami bersama.
Kami jarang bermain gadget seperti remaja pada umumnya kami lebih senang bermain mainan tradisional dan kekanak-kanakan. Aku sering bermain ke rumahnya menghabiskan waktu di rumahnya begitupun dengan dia, dia selalu bermain di rumahku. Hingga orangtuaku menganggapnya sebagai anaknya sendiri begitupun dengan dia.
Sampai tiba saatnya. Di hari pertama kita bertemu pada tanggal 29 januari, saat itu kami sudah 3 tahun bersama, tapi tiba-tiba saja dia berubah dia melupakan kenangan demi kenangan yang kami bangun bersama. Dia melupakanku layaknya seseorang yang tidak mengenalku sama sekali.
Saat itu pagi-pagi sekali aku sudah ada di sekolah berniat untuk mengucapkan hari jadi persahabatan kami. Tapi saat aku mengucapkan kata demi kata “selamat hari jadi sahabatku tersayang” dia hanya meresponku dengan senyuman yang melekat pada bibirnya.
Istirahat pun tiba, aku mengajaknya untuk pergi ke kantin bersamaku tapi dia tidak ingin ke kantin bersamaku. Aku pun berusaha untuk menenangkan hatiku dan bersabar.
“Mungkin ia lagi banyak masalah jadi ingin menyendiri dulu” Gumamku dalam hati.
Hari berlalu begitu cepat tapi keadaannya masih sama seperti beberapa hari yang lalu dia masih menyendiri. Hingga aku bulatkan tekadku untuk berbicara dengannya saat pulang sekolah tiba
“TET… TET.. TET…” Bel sekolah pun dibunyikan. Aku pergi ke suatu tempat dan mengobrol dengannya.
“Jihan, ada apa denganmu akhir-akhir ini kamu sering menyendiri. Lagi ada masalah ya?, cerita aja siapa tau aku bisa membantumu” Ucapku
“Iya aku emang lagi ada masalah” kata Jihan
“apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah kamu”
“Aku? apa maksudmu?”
“Iya kamu karena orangtuaku selalu saja memujimu saat kau datang ke rumahku PUAS!” JIhan pergi meninggalkanku dengan memberiku luka yang amat besar kepadaku. Aku menangis tersedu-sedu aku tidak mengerti kenapa ini semua terjadi padaku. Aku pulang dengan perasaan yang sanat sedih sepanjang hari aku mengurung di kamar sambil menangis.
“Tuhan, kenapa ini harus terjadi kepadaku? Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang kau lakukan ini kepadaku. Apakah kau menghukumku? Jangan hukumku seperti ini tuhan…” Ucapku.
Hari berlalu begitu cepat. Dengan cepat dia melupakanku dan sudah mempunyai sahabat yang baru. Dan aku begitu lemah aku tak berdaya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.
Aku Merindukanmu, Sahabatku

melihat dari sebelah mata

Melati namanya. Dia sekolah di SDIT Ibnu Sina. Di sekolah dia punya teman, namanya Lala. Lala baiiik sekali kepada Melati.
Suatu hari di sekolah…
“Anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru. Nah, coba kamu memperkenalkan dirimu!,” suruh ustadzah Nessa. Anak-anak tediam melihat murid perempuan baru itu.
“Assalamu’alaikum teman-teman.. namaku Zahira Aulia Asya. Bisa dipanggil Aulia. Aku anak pindahan dari Probolinggo. Semoga kalian senang bermain denganku, wassalamu ‘alakumwarahmatullahiwabarakatuh,” kata anak yang bernama Aulia itu. “Baiklah Aulia, kamu boleh duduk di sebelah Fiana,” kata ustadzah Nessa. Aulia pun menurut, Aulia segera duduk di sebelah Fiana. Akhirnya Ustadzah Nessa memulai pelajaran.
Kriiing! kriing!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Melati dan Lala segera menghampiri Aulia. Mereka ingin berkenalan. “Hai Aulia. Aku Melati,” Melati memperkenalkan diri ketika bertemu di lapangan sekolah. “Aku Lala si kutu buku, hehehe..,” kata Lala tersenyum. “Hai juga. Aku Aulia. Salam kenal. Senang bertemu dengan kalian berdua,” Aulia ikut tersenyum. Akhirnya mereka pun bersahabat. Tapi saat mereka bermain di rumah Aulia ternyata mereka tahu sifat asli Aulia seperti apa.
“Aulia! aku pinjam buku KKPKmu ya! Hmmm sama buku Pink Berry Club deh,” pinta Melati. “No! No! No! Jangan sentuh buku itu!,” sanggah Aulia yang sedang bermain game My Little Pony di tabletnya. Melati kesal dengan sikap Aulia. Melati menoleh kepada Lala. Lala hanya mengangkat bahunya. Tiba-tiba Aulia ke luar dar kamar. Setelah itu, Aulia berteriak pada mamanya. “Mama! Belikan HP baru dong! HP ku udah lecet-lecet nih!,” teriak Aulia. Mama Aulia tak menjawab. Aulia pun kesal pada Mamanya. Rupanya, Mama Aulia sedang sholat dhuha. Melati dan Lala pun kaget. Mereka segera pamit untuk pulang. Sejak saat itu, Melati dan Lala tak bertegur sapa dengan Aulia lagi karena takut kalau diceritakan hal yang buruk oleh Aulia. Lala dan Melati hanya bermain berdua saja.
Hingga pada suatu hari di alun-alun kota..
Aulia tampak ingin membeli kue putri salju dan kue nastar karena 2 hari lagi lebaran akan tiba di depan mata.
Kebetulan, saat itu Lala dan Melati sedang jalan-jalan bersama. Mereka berdua ingin refreshing sebentar.
“Eh aku lupa! Ibuku bilang kalau ketemu sama penjual kue lebaran, beli saja. Itu kata Ibu,” Kata Melati. “Ya sudah aku anterin kamu beli kuenya,” kata Lala. “Makasih, La,” Melati tersenyum. “Ya begitulah, namanya sahabat harus saling membantu,” jawab Lala, merangkul pundak Melati sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tak lama kemudian Melati melihat toko kue. “Eh itu ada toko kue!,” kata Melati.”Yuk kita kesana!,” ajak Lala. “Yok,” sahut Melati. Akhirnya mereka berdua menghampiri toko kue itu. Ternyata di toko itulah tempat Aulia berada! “Pak, Beli kue nastar 1 kotak ya!,” pinta Melati. “Eh sama pancake mini 1 kotak juga.. Ehmm sama shifon cake rasa pandan 1 kotak!,” lanjut Melati. “Oke dek. Ada yang mau dipesan lagi?,” tanya bapak itu sambil mencatat pesanan Melati di buku yang bertuliskan Bakery Shop. “Enggak ada lagi pak,” jawab Melati. “Baik. Silakan menunggu di situ sebentar!,” ucap apak itu. Melati dan Lala pun duduk di kursi.
“Fauzin! Nastar, pancake mini, shifon cake rasa pandan! Semua satu kotak ya!,” seru bapak tadi. “Iya, pak!,” jawab petugas yang bekerja di Bakery Shop. Tak lama petugas tadi membawa beberapa kotak yang berisi pancake mini, shifon cake rasa pandan dan nastar. “Ini pesanannya!,” kata bapak kasir sambil menyerahkan pesanan melati. “Totalnya berapa pak?,” tanya Melati sambil menyiapkan uang. “Totalnya Rp. 210.000,-” jawab bapak yang ada di kasir. Mahal bangeet, batin Lala. “Kredit bisa enggak pak?,” tanya Melati. “Oh bisa kok dek,” jawab bapak kasir. Melati pun menggesekkan kartu kreditnya. Kemudian Melati segera memasukkan pinnya. “Terimakasih sudah berbelanja di sini Datang lagi ya!,” kata bapak kasir. Lala dan Melati pun keluar. Namun, saat mereka akan keluar tiba-tiba mereka melihat sosok yang mereka kenal. Dan itu adalah… Aulia! Mereka segera keluar dan menunggu Aulia keluar sambil bersembunyi
Tak sampai 10 menit Aulia kelluar sambil membawa beberapa otak kue. Dia juga memegang uang sebanyak 50 ribu. Melati dan Lala mengintip di balik gerobak kopi dan susu pak Darman dan pak Darso. Terlihat nenek tua yang sedang memungut sisa keju yang agak kotor. Dan Aulia merasa iba melihatnya. Setelah itu, Aulia memberikan uang sebanyak 50 ribu dan sebagian kue yang dibelinya! Subhanallah! Betapa dermawannya Aulia. “Nek ini buat nenek. Jaga kesehatan juga ya nek!,” kata Aulia. “Makasih ya, cu, semoga Allah membalas kebaikan cucu,” kata nenek tua itu sambil menangis terharu. Melati dan Lala ikut terharu melihatnya. “Aamiin. Ya udah nek saya mau pulang dulu. Assalamu’alaikum nek,” kata Aulia. “Wa’alaikumussalam cu. Hati-hati di jalan,” jawab nenek tua dengan lemah. Aulia tersenyum, kemudian dia pulang.
Esoknya di sekolah..
“Aulia boleh kan kita bersahabat seperti dulu lagi? Aku sudah bosan kalau enggak ada ocehanmu lagi,” kata Lala dan Melati. Aulia tersenyum. Lala dan Melati tahu, Aulia tersenyum berarti Aulia mau menerima mereka menjadi sahabat lagi.. dan akhirnya mereka besahabat selamanya..

friend zone

Sahabat, orang bilang sahabat itu adalah segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama dengan teman disetiap momen. Mau susah, senang, suka maupun duka dilalui bersama dengan saling menopang satu sama lain. Iya, kami sama seperti itu. Kami, yaitu aku dan Fira merupakan sahabat yang sesuai dengan definisi tadi. Kami sudah dari umur 13 tahun hingga saat ini menginjak umur 19 tahun. Namun, 3 tahun belakangan ini aku telah memendam rasa dengan Fira. Ya, karena kami selalu bersama dan saling bertukar perhatian jadinya tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku. Tapi aku tidak berani mengungkapkannya karena aku tidak ingin merusak persahabatan ini.
Kringgg…
“Hallo Fir, ada apa ya?”
“Hari ini kamu kosong nggak Wan? Temani aku beli coklat yuk sekarang.”
“Oh kosong kok, oke deh aku jemput kamu sekarang ya.”
Seperti itulah, mulai dari urusan kecil sampai urusan besar kami selalu saling menemani satu sama lain.
Tok tok tok…
“Firaaa….”
“Eh Wawan udah dateng, ayo berangkat sekarang.”
“Buat apa sih beli coklat? Perasaan kamu enggak suka coklat karena takut gemuk ya?”
“Hehe aku beli coklat bukan buat aku kok, tapi buat Rendy.”
Rendy, pria tampan nan kaya yang akhir-akhir ini memang sering dicurahkan oleh Fira kepadaku. Pria playboy yang dulu merupakan kakak kelas kami sewaktu SMP ini memang lagi dekat dengan Fira. Jujur hati kesal dan cemburu ini tak boleh terlihat sedikitpun dalam raut wajah ataupun kelakuanku agar Fira tidak curiga dan tetap nyaman menceritakan semua kedekatannya kepadaku.
Selagi Fira memilih coklat mana yang akan ia beli, aku menyodorkan es krim kesukaan dia.
“Pasti kamu haus kan? Nih aku beli es krim kesukaanmu.” Ucapku,
“Wah, kamu tau banget ya kesukaanku. Makasih ya Wan. Oh iya, aku udah beli coklatnya nih, kita langsung pulang ya.” Sahut Fira,
“Tumbenan kamu minta langsung pulang. Biasanya makan dulu ke kafe siang gini.” Jawabku,
Hari itu kami pulang lebih awal karena permintaan Fira. Padahal jarum jam baru mengarah di angka 1 dan juga cuaca panas ini sedang terik-teriknya, dia memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumah. Aku hanya menuruti saja permintaan Fira itu.
Aku pun pulang ke rumah dan merebahkan tubuhku yang lemas ini setelah sebelumnya mengantarkan Fira pulang terlebih dahulu. Entah apa yang akan Fira rencanakan setelah ini, aku tidak mengetahuinya karena Fira tidak menceritakannya.
“Wan… ada Fira tuh di luar. Keluar gih temuin Fira.”
Aku terbangun karena perkataan Ibu yang begitu keras. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, wah lama juga aku tertidur. Aku segera cuci muka dan menuju depan rumah untuk menemui Fira.
“Eh Fira, ada apa Fir sore-sore kemari?” Tanyaku,
“Enggak ada apa-apa kok aku mau cerita aja sama kamu.” Jawab Fira,
“Ya udah sok atuh pake bilang mau cerita segala, orang biasanya aja kamu langsung nyerocos gitu aja kalo ketemu.”
“Hehe soalnya aku lagi seneng hari ini.”
“Wah pantesan jadi gitu. Ada apa hayo coba ceritakan.”
“Hehe iya iya. Tadi tuh aku minta pulang cepet karena ada janji sama Rendy mau ketemuan. Terus sukses deh ketemuannya dan Rendy suka sama coklat pemberianku. Terus Rendy juga bilang kalo dia sayang sama aku terus…”
“Terus dia nembak kamu? Terus kamu terima?” Potongku,
“Hih nyerobot aja omongan orang, iya dia nembak aku. Ya aku terima lah, soalnya aku juga suka sama Rendy hehe dia ganteng banget.”
“Apa enggak terlalu cepat kalian pacaran? Kan baru 2 minggu pendekatannya, terus juga dia kan terkenal playboy sejak SMP.”
“Enggak papa lah, namanya juga suka hehe, masalah playboy udah enggak kok, Rendy bilang sendiri sama aku. Ya udah ya aku pulang, udah mau maghrib. Lagian aku kesini cuma mau cerita itu aja. Dadah Wawan.”
“Astaga, dasar Fira pamer aja”
Hatiku hancur mendengar cerita dari Fira itu. Ternyata mereka sudah berpacaran. Tapi aku masih penasaran dengan Rendy, apakah benar dia sudah tak lagi playboy? Aku tidak mau kalo Rendy mempermainkan sahabatku ini. Mulai saat ini aku akan menyelidiki profil Rendy. Aku telusuri mulai dari akun sosial medianya, sesekali juga aku melewati rumahnya, tapi ternyata aman. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari sang playboy ini.
5 bulan sudah mereka berpacaran, dan selama itu juga aku selalu mendengarkan curahan hati dari Fira tentang Rendy. Sial, selama itu juga aku harus memendam rasa cemburu yang bergejolak ini. Sampai akhirnya saat malam hari di jalan aku melihat Rendy sedang berboncengan dengan seorang perempuan. Setelah aku lihat, ternyata itu bukan Fira, melainkan orang lain yang tidak aku kenal. Terus aku ikuti perginya, sampai di rumah Rendy mereka masuk bersama. Mulai saat itu aku menyelidiki kemanapun Rendy pergi.
Keesokan harinya, ketika aku sedang asyik nongkrong dengan temanku. Iya temanku, cowok, namanya Joko, dan bukan dengan Fira lagi aku pergi. Sejak Fira memiliki pacar, dia menjadi sedikit jaga jarak denganku dan aku menghormati keputusannya itu. Aku menghabiskan malam itu hanya bersama Joko.
“Sebentar ya teman, aku ke toilet dulu. Udah gak tahan.” Ucapku,
“Haha iya sudah sana. Jangan lama-lama!” Jawab Joko,
Ketika sedang menuju ke toilet, aku seperti melihat sosok Rendy yang berada di kursi pojok sana bersama seorang perempuan yang waktu itu aku lihat sedang berboncengan dengannya kemarin. Aku berinisiatif untuk memotret mereka berdua dan memberikannya ke Fira sebagai bukti bahwa ternyata Rendy masih playboy dan belum berubah.
“Hoy, ayo cepat kita pulang sekarang. Aku ada urusan.” Pintaku,
“Cepet amat Wan, ada apa ya?” Tanya Joko,
“Udah nanti aja aku ceritain, sekarang kita ke rumah Fira dulu aja deh, baru pulang.”
Setelah sampai di rumah Fira, aku segera menceritakan dan menunjukkan apa yang sudah aku lihat di kafe tadi.
“Oh jadi ini, pantesan kamu minta buru-buru kemari.” Ucap Joko,
“Ini apa-apaan! Siapa ini Wan? Siapa perempuan yang bersama Rendy itu? Aku tidak mengenalnya dan Rendy tidak cerita apa-apa ke aku.” Ujar Fira,
“Aku juga enggak tau siapa, tapi itulah yang aku lihat. Makanya aku kasih tau ke kamu. Kayanya Rendy memang masih playboy deh.” Jawabku,
“Aku enggak sangka ternyata Rendy bohong sama aku. Aku enggak suka dibohongi. Aku mau putus sama dia.”
Malam yang panjang dan menyedihkan bagi Fira itu telah dilalui dengan rasa gundah di dada menahan rasa sakit yang tiada tara karena sosok pujaan telah berani membohongi dan mematahkan kepercayaan darinya. Keesokan harinya Fira memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Rendy.
Tok tok tok…
Saat Fira mengetuk pintu, tiba-tiba yang membukakan pintu rumah Rendy ternyata perempuan yang semalam aku lihat bersama Rendy. Spontan Fira langsung menanyakan dengan kasarnya.
“Kamu siapa? Kok ada di rumah Rendy? Kamu pacarnya Rendy? Selingkuhannya Rendy? Atau simpanannya?” Ujar Fira,
“Aku…”
“Dia saudaraku yang datang dari Surabaya.” Potong Rendy yang tiba-tiba datang,
“Kamu bohong! Kenapa kamu gak bilang sama aku? Ini pasti selingkuhanmu! Sebab itu kamu menghilang akhir-akhir ini. Dasar playboy! Aku mau putus!” Ucap Fira,
“Sudah-sudah Fir, jangan emosi, gak enak di rumah orang ini.” Ucapku menenangkan Fira,
“Kamu siapa? Kok dateng sama Fira?” Tanya Rendy kepadaku,
“Aku sahabatnya Fira…”
“Dan dia yang ngasih tau selingkuhanmu ini kepadaku.” Potong Fira,
“Oh jadi kamu yang menyebarkan fitnah ini?” Ujar Rendy,
“Iya kak, ini fitnah, aku memang saudaranya mas Rendy, aku dititipkan kesini karena orangtuaku yang ada di Surabaya bakal ke luar negeri. Sebab itu aku ada disini dan baru sampai kemarin.” Ucap Perempuan itu,
“Jadi benar seperti itu Ren?” Tanya Fira,
“Iya benar lah. Aku belum bilang sama kamu karena hpku sedang di service.” Jawab Rendy,
“Kenapa Wan? Kenapa kamu fitnah Rendy kaya gini?” Tanya Fira,
“Mungkin karena dia suka sama kamu dan mau kalo kita putus.” Ujar Rendy,
“Apakah benar seperti itu Wan?” Tanya Fira lagi,
“Iya benar! Semua itu memang benar! Aku memang sudah suka sejak lama sama kamu Fir, dan aku enggak mau kalo kamu pacaran sama playboy cap gorila ini! Sekali playboy tetap aja playboy!” Pengakuanku,
“Tapi enggak gini caranya Wan… bukan dengan cara fitnah seperti ini. Aku bener-bener kecewa sama kamu. Persahabatan kita cukup sampai disini saja dan silakan kamu pergi.” Ucap Fira,
Aku tidak menjawab perkataan Fira dan langsung segera pergi dari tempat itu dengan langkah penyesalan sebagai alasnya. “Kenapa aku ini? Kenapa aku sebodoh ini? Aku telah menghancurkan semua!” Ucap hati berbisik sendiri.
Semenjak kejadian itu, aku sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Fira. Dia menjauh dariku dan tetap bersama Rendy. Aku hanya pasrah menerima semua ini. Aku sudah tidak ada kuasa untuk memperbaiki kesalahanku ini. Kesalahan yang tidak termaafkan. Hampa, sunyi kurasa dalam menjalani langkah demi langkah yang ku lalui bila tak bersamanya. Harus terbiasa tanpa dirinya, tak boleh bergantung pada dia yang sudah tak lagi peduli akan fisik, dan perasaan ini. Padahal aku ingin yang terbaik untuknya, dan aku bisa berikan itu walau melalui status sahabat ini, Fir.
Tak terasa 1 tahun sudah, dan aku pun sudah melupakan kejadian itu. Aku sudah mulai senang dengan duniaku yang baru ini dan sudah terbiasa dengan tanpa kehadiran Fira di hidupku, tak seperti dulu. Kini aku sendiri, hanya Joko yang dapat mengerti dan menemani dikala kesepian melanda. Kami masih saling nongkrong bersama menghabiskan waktu di kafe langganan kami.
“Wan, aku tadi lihat Rendy sedang bermesraan dengan seorang wanita. Kali ini beda, bukan perempuan yang kamu lihat dulu. Ini aku dapat foto mereka berdua sedang bermesraan di meja pojok.”
“Ah biarlah Jok, aku sudah tak lagi peduli. Paling wanita itu saudaranya lagi, aku gak mau fitnah lagi.”
“Enggak Wan, kali ini beda. Mereka terlihat sebaya dan coba kamu lihat betapa mesranya mereka di foto ini.”
“Wah, iya juga ya. Kita selidiki yuk, siapa tau yang ini bukan fitnah.”
Kemudian aku mengintip mereka yang sedang bermesraan di salah satu meja kafe. Aku juga merekam aktifitas mereka. Mulai dari saling suap, saling belai, yang tak kalah mengagetkan mereka sempat berciuman! Ini tidak bisa dibiarkan. Benar-benar sudah keterlaluan dan aku harus segera melapor ke Fira. Tapi masalah yang sebenarnya baru saja muncul, bagaimana cara membuktikannya kepada Fira, sedangkan Fira sudah tidak mau lagi bertemu denganku.
“Kita kirim saja rekaman ini ke sosial media milik Fira.” Ujar Joko,
“Gak bisa Jok, semua sosial mediaku yang berhubungan dengan dia sudah di blokir. Gimana kalo pake sosial mediamu saja untuk mengirimnya.” Ucapku,
“Yaelah Wan, kamu tau sendiri aku gak punya sosial media” Jawab Joko,
“Terus gimana ya Jok?”
“Ya udah, biar aku coba telepon Fira deh. Siapa tau diangkat.”
Tuttttt…
“Hallo, siapa ya?”
“Ini aku Joko, temennya Wawan yang waktu itu ke rumahmu sama dia. Aku mau bicara sama kamu, penting.”
“Ada apa ya? Bicara di telepon saja, udah malem.”
“Jadi gini, aku tadi liat Rendy sedang bermesraan dengan seorang wanita. Mereka saling suap, saling belai, bahkan mereka… ah sudahlah pokoknya mereka sangat mesra, aku punya buktinya.”
“Fitnah apa lagi ini? Udah lah aku gak percaya lagi sama kalian. Jangan kasih fitnah apa-apa lagi tentang Rendy ke aku. Bye.”
Tuttt tuttt tutt…
Telepon Joko diputus oleh Fira. Sepertinya Fira memang sudah tidak lagi percaya kepada kami berdua karena kesalahan dulu tidak dapat termaafkan oleh Fira.
“Ya udah lah, hapus aja rekamannya Jok, percuma. Fira udah enggak percaya. Kita pulang aja, aku udah males disini.”
“Ya oke deh Wan aku nurut apa katamu.”
Siang berganti malam, malam berganti siang. Begitu seterusnya sampai hari ini sudah 1 bulan dari kejadian malam itu yang mengecewakan karena Fira telah mengacuhkan niat baik dari diriku.
Tokk tok tok…
“Wawan….”
Aku seperti mendengar suara Fira dari arah depan. Tapi mana mungkin Fira datang ke rumahku. Secara, dia sudah tak lagi ingin bertemu denganku. Mungkin rindu ini yang menyebabkan aku berhalusinasi di siang bolong gini.
“Wawan!”
Suara yang mirip Fira itu semakin keras dan semakin terdengar jelas. Aku keluar karena penasaran. Ketika aku ke luar ternyata benar itu Fira. Belum aku bertanya kepadanya, Fira langsung memelukku dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya dan kemudian jatuh sedikit membasahi kaos oblong yang sedang aku kenakan.
“Sudah, sudah. Ada apa sebenernya Fira? Ceritakan kepadaku.”
“Kamu masih nyimpen bukti kemesraan Rendy malam itu gak? Yang katanya kamu mau berikan kepadaku sebagai bukti.”
Langsung saja aku mengecek hp dan ternyata yang tersisa hanyalah foto-fotonya saja karena rekaman malam itu memang sudah dihapus.
“Aku cuma ada foto-fotonya aja yang masih kesimpen nih.”
“Tuh kan bener, ini cewek yang sama kaya aku lihat barusan. Jadi barusan aku makan siang bareng mama di kafe yang biasa. Terus enggak sengaja aku lihat Rendy bersama cewek yang ada di foto ini. Mereka bener-bener mesra sama seperti yang waktu itu Joko beri tau.”
“Kamu yakin ini bukan fitnah yang aku sebabkan lagi?”
“Aku juga gak tau fitnah atau enggak. Cuma ada satu cara membuktikannya. Mari kita selidiki bersama.”
“Bersama? Kamu dan aku? Tapi kan, bukannya kamu udah gak mau ketemu aku lagi?”
“Udah lah Wan, jangan kaya anak kecil. Ini bukan saatnya membahas itu. Aku mau bukti Rendy ini. Kamu mau bantu aku atau enggak?”
“Iya deh aku mau bantu.”
Kami menyusun rencana bersama, banyak kami berdebat untuk memperoleh keputusan yang bulat untuk rencana ini. Jujur saja aku kembali senang dengan sikap Fira yang kembali cair kepadaku. Seakan dia sudah kembali seperti sedia kala. Walaupun ini baru awal dia ketemu aku, bisa saja besok sudah tidak lagi ingin bertemu denganku. Akhirnya kami menemukan rencana yang ideal untuk menjebak Rendy. Kami akan menjalankan rencana pada sore hari.
Tibalah saatnya melaksanakan rencana….
Kami datang ke kafe yang biasa melihat Rendy. Aku datang bersama Fira dengan harapan bisa melihat atau bertemu Rendy bersama wanita itu lagi. 2 jam kami menunggu, ternyata benar. Rendy datang bersama wanita itu lagi. Kami tunggu sampai suasana tenang dulu baru melaksanakan rencana selanjutnya.
“Rendy, kamu lagi dimana?” Sms Fira kepada Rendy, tapi Rendy tidak membalas. Akhirnya Fira memberanikan diri untuk menelepon Rendy.
“Hallo Rendy kamu lagi dimana?”
“Eh Fira, ada apa? Aku lagi di rumah saudara.”
Jelas Rendy menutupi perbincangan di telepon itu karena dia menjauhi wanita yang sedang bersamanya itu, agar dia tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan Rendy.
“Aku mau ketemu kamu sekarang ya kita ketemu di toko buah depan rumahku.”
“Enggak bisa sekarang Fira, aku lagi merawat saudaraku yang lagi sakit.”
Jelas lagi terlihat bahwa Rendy berbohong. Rendy menutupi fakta yang sebenarnya dia lakukan malam itu. Fira langsung menutup teleponnya dan berkata kepadaku.
“Kamu benar Wan, kali ini memang bukan finah. Mari kita selesaikan bersama.”
Fira langsung menuju meja yang sedang diduduki oleh Rendy dengan tergesa-gesanya.
Dubrakkkk… suara bantingan tangan ke arah meja Rendy.
“Jadi ini? Jadi disini rumah saudara kamu?”
“Bu.. bukaan gitu…”
“Jadi wanita itu yang kamu bilang sakit? Yang kamu bilang bakal merawatnya? Cantik gini ya.”
“Bisa aku jelasin semua kok Firaaa.”
“Udah nggak ada yang harus kamu jelasin. Kamu sekarang bohong sama aku, dan aku sangat benci kebohongan. Mungkin benar dulu Wawan udah fitnah ke kamu. Tapi perkataan Wawan dulu ada benernya kalo sekali playboy tetep aja playboy!”
“Oh jadi ini semua karena ulah kamu lagi Wan? Dasar kurang ajar!”
Rendy melontarkan pukulan kerasnya ke arah hidungku sampai mengeluarkan darah cukup banyak. Aku tak dapat berkutik karena menahan sakit ini. Bukan aku yang membalas Rendy melainkan Fira yang menendang perut Rendy sampai terjungkal jatuh.
“Rasakan itu! Aku mau putus sama kamu! Jangan ganggu aku lagi!”
Kami meninggalkan Rendy yang sedang terkapar itu. Fira menuntunku ke luar dan memberikanku sapu tangan untuk membersihkan darah yang masih saja keluar dari hidungku.
“Maaf ya Wan, gara-gara aku kamu jadi gini.”
“Enggak papa kok Fir, memang sudah seharusnya sebagai seorang sahabat itu membantu sahabatnya yang lagi kesusahan, senang bisa membantu”
“Sahabat ya Wan. Jadi kita sahabatan lagi?”
“Iya kan Fir? Aku mau sahabatan lagi sama kamu dan aku janji tidak akan merusak persahabatan kita lagi. Aku takut kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.”
“Makasih ya Wan, kamu baik banget. Aku menyesal pernah bilang kasar dulu ke kamu. Iya kita sahabatan kaya dulu lagi hehe.”
Fira memelukku sebagai tanda bahwa dia sudah tidak lagi marah dan menerimaku lagi sebagai sahabatnya. Aku senang semua bisa kembali seperti sedia kala. Aku tidak menyesal menjadi sahabat Fira. Aku juga tidak menyesal karena tidak bisa menjadi pacar Fira. Aku tau kalo pacar bisa kapan saja putus. Tapi sahabat bisa sampai kapanpun dan aku menjamin kali ini tidak akan sampai rusak persahabatan ini.

berubah

Pagi yang cerah seorang gadis cantik yang bernama Sinta bergegas menuju sekolahnya. Dia dengan gembira berangkat ke sekolah bersama tiga sahabatnya Ina dan Rara. Sinta merupakan gadis cantik yang memiliki sifat yang cerewet tapi, dia orangnya baik hati, sehingga banyak orang yang senang dengannya. Sinta juga salah satu pengurus osis di sekolahnya dia juga siswa yang berprestasi di kelas.
Siang itu di kantin sekolah Sinta dengan dua sahabatnya sedang duduk duduk menikmati minuman. “Sin ntar siang gue ke rumah loe yah, soalnya gue mau diajarin soal yang tadi” kata rara “gue ikut ra’ gue juga nggak ngerti” sambung ina. “iya kalian datang aja kita kerjainnya bareng bareng makanya kalau guru ngejelasin yah diperhatikan. hehehe” balas Sinta sambil ngeledek “ihh Sinta kamu jahat abisnya Rara sih yang ngajakin aku ngobrol mulu” balas Ina “apaan gue Ina tau yang kerjanya cuman cerita tentang itu tuh punya gebetan baru, upss” ledek Rara akhirnya mereka berkejaran ke kelas karena saling ngeledek.
Siang harinya setelah pulang sekolah Rara dan Ina berangkat kerumah Sinta, dalam perjalanan dia bertemu dengan salah seorang cowok yang sekelas dengannya dia adalah Eza. Eza itu teman sebangku Sinta tapi mereka berdua sering bertengkar. Yah gitulah cinta monyet hehhe. kita lanjut dengan ceritanya, Rara dan Ina mengajak Eza ke rumah sinta “za’ loe mau ikut nggak?” kata Rara “emangnya kalian mau kemana” balas Eza “ke rumah Sinta” singakat Ina “malas banget ketemu sama cewek songong itu” kata Eza “tapi, gue sering liat kamu sedang merhatiin Sinta” ledek Rara “sembarangan aja loe ya sudah gue ikut kalian” kata Eza.
“Assalamualaikum Sinta.. Sinta!” serentak mereka bertiga
“waalaikum salam ehh Rara Ina ayo masuk nak tunggu ibu panggilin Sinta yah!” kata ibu Sinta
Ibu Sinta menuju ke kamar Sinta “sin di luar ada rara dan ina tuh jug teman cowok kamu” kata ibu “siapa yah bu perasaan aku nggak janjian sama teman cowok” kata Sinta “Ibu mana tau ibu juga baru liat tuh kamu keluar aja” balas Ibu sambil menuju ke dapur
Sinta ke luar dan kaget ketika melihat cowok yang datang itu musuhnya. “ngapain cowok tengil ini ada disini” Sinta sambil keluarin muka jelek.
“gue juga malas kali ketemu loe cuman gue diajakin Rara dan Ina belajar bareng jadi gue terima” kata Eza
“iya nih Sinta nggak asik banget” kata Rara “iya nih sekali kali baikan dong” sambung Ina. “ya sudah kita langsung belajar aja yah, maafin gue Za’ abisnya loe sih songong banget di kelas” kata Sinta “loe aja tuh yang songong” balas Eza sambil ngebela diri. “udah udah nggak usah bertengkar kita kan mau belajar bukan nontonin kamu yang lagi bertengkar” kata Ina “ya sudah kita mulai saja” kata Sinta
Tidak membutuhkan waktu lama Sinta dan Eza mulai akrab tapi, masih sering bertengkar gitu. Seiring berjalannya waktu mereka sering belajar bareng dan makan bareng. Akibat itu waktu Sinta dihabiskan untuk jalan bareng Eza, yang dulunya bareng 2 sahabatnya itu sekarang sudah mulai mencuekin dua sahabatnya. “liat tuh Sinta, dia berubah banget yah semenjak dekat dengan Eza” kata Ina Rara yang sedang tidak sehat hanya menjawab “iya nggak tau dia sangat berubah”
Karena kedua sahabatnya itu kecewa dengan Sinta akhirnya mereka memutuskan menjauh dengan Sinta. Akan tetapi Sinta semacam acuh tak acuh dengan sahabatnya bahkan Rara yang masuk rumah sakit dia tidak pernah menjenguknya. Bahkan Sinta yang dulunya berprestasi namun akibat terkena pergaulan bukan hanya sahabatnya yang ia acuhkan tapi, dia juga lupa belajar sehingga membuat nilainya menjadi merosot. Bahkan Sinta tidak tau kalau Rara yang merupakan sahabatnya sekarang sangat membutuhkan suport dari sahabatnya. “Sin loe kenapa berubah? Apa loe tau Rara sekarang sakit, dia butuh suport dari kita” kata Ina. Sinta hanya diam dan mengajak Eza pergi bersamanya. Ina hanya menangis dan berkata “Sinta kamu berubah, aku benci kamu”
Rara sudah mulai bisa berangkat ke sekolah dan minggu depan mereka ulangan akan tetapi Sinta masih sibuk dengan Eza. “Sin ntar pulang sekolah kita jalan yuk” ajak Eza “tapi Za’ minggu depan kita ulangan aku mau belajar waktuku untuk belajar nggak ada abis nemenin kamu terus jalan sih” kata Sinta “jadi kamu salahin aku? Ya sudah kalu nggak mau nggak usah salahin aku!” balas Eza “aku nggak salahin kamu kok tapi ya sudah aku izin sama ibu dulu yah ntar aku kabarin” bujuk Sinta
Sinta diantar Eza pulang ke rumahnya. Sinta langsung ke kamar untuk ganti baju terus makan bersama dengan keluarganya. “Sinta akhir akhir ini ayah nggak pernah lihat Rara dan Ina datang ke rumah” kata ayah “iya Sin dengar dengar Rara sedang sakit kamu nggak pernah jenguk dia?” sambung ibu. Sinta hanya terdiam terus makan dan memulai percakapan lagi “bu ntar siang aku mau keluar bareng teman aku” kata Sinta “Siapa Sin? Cowok?” kata ayahnya. “iya yah dia yang antarin aku pulang tadi” balas Sinta “nggak lama lagi kan kamu ulangan, kamu emangnya nggak belajar?” kata ibu “nggak bu sebentar aja kok” kata Sinta “ya sudah ayah izinin kamu tapi, ayah tidak mau lihat nilai kamu turun ya!” kata ayah
Sinta langsung bersiap siap dan mengabari Eza. “Za loe jadi ke luar?” kata Sinta “iya gue jemput kamu yah?” kata Eza “iya buruan” kata Sinta sambil menutup telepon. Singkat cerita Eza langsung menjemput Sinta.
“bu aku berangkat yah” Sinta pamit
“iya kamu jangan lama lama yah” kata ibu
Sinta dan Eza akhirnya berangkat. Setelah lama jalan yang ngakada tujuan jelas akhirnya Sinta mengajak Eza pulang. “Za pulang yuk aku capek jalan terus” kata Sinta “ya sudah kita pulang” singkat Eza
Senin nanti Sinta ujian tapi, dia belum mempersiapkan bahannya untuk menjawab soal nanti. Tiba saatnya ujian Sinta hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar karena waktunya untuk belajar dihabiskan jalan bersama Eza. Sinta mulai sadar kalau perbuatannya ini tidak benar. Sinta mulai menjauh dengan Eza.
Setelah seminggu ujian berlangsung. Tiba saatnya dimana peneriman hasil ujian. Akibat dari kurangnya Sinta belajar nilai yang dulunya sangat baik tapi, sekarang malah sangat turun. Sinta hanya bisa nangis dan takut pulang ke rumah karena ia takut ayahnya nannti kecewa dengannya. Ina dan Rara menghampiri Sinta yang sedang menangis “Sinta kok kamu nangis, kenapa?” kata Rara “aku tau kalian ngeledek aku kan karena nilai aku rendah kalian pergi saja dari sini” bentak Sinta “Sin kita nggak sejahat itu kali” kata Ina “iyaa kita baikan yah” kata Rara “iyaa kami antarin kamu pulang yah” kata Ina “aku takut ayah aku marah pas liat nilai aku hancur” kata Sinta “kamu jelasin yang sebenarnya aja” kata Rara “ya sudah” singkat Sinta.
Mereka berangkat ke rumah Sinta. “Assalamualaikum” serentak mereka
“waalaikum salam” jawab Ibu Sinta “loh Sinta kamu abis nangis mata kamu merah” sambung ayah sinta. “ayah jangan marah ya” kata Sinta “kenapa ayah harus marah? Salah kamu apa?” balas ayah Sinta “nilai aku turun ayah” kata Sinta “itu kan, ibu sudah duga nilai kamu turun abis kamu jarang belajar” sambung ibu “maafin aku bu” kata Sinta “iya iya nggak apa apa sayang, tapi kamu janji sama ayah dan ibu kamu harus bisa meningkatkan nilai kamu lagi” kata ayah. “iya ayah Sinta janji” kata Sinta
Sinta, Ina, dan Rara menuju ke kamar Sinta. “Ra’ Ina maafin gue yah!” kata Sinta “iya sin kami udah maafin kamu ya kan Ra” kata Ina “iyaa sin” sambung rara.
Sinta yang dulu dekat dengan Eza, sekarang tidak lagi akrab dan tidak pernah saling sapa lagi. Waktu Sinta sekarang digunakan untuk belajar dan jalan bareng Ina dan Rara.
selesai

kutinggalkan cintaku

Apakah salah jika kita mencintai seseorang yang dicintai oleh orang lain. Kurasa tidak, selama tidak ada yang terluka dan tidak ada hubungan yang rusak.
Aku adalah gadis biasa berusia 16 tahun yang awalnya hanya menyukai seorang laki-laki yang pintar dan unik. Dia adalah anak osis, namanya Febryant Rio, biasanya dipangil Rio atau Ian, kami satu sekolah namun beda kelas. Dia anak excellent sedangkan aku reguler. Aku sering diam-diam memperhatikannya bersama sahabatku Angel. Rio dan Angel adalah pasukan paskibra. Oya, namaku Vanesa Auliya biasanya dipanggil Vannes.
Hari itu terdengar berita bahwa akan ada pemilihan calon ketua osis. Salah satu temanku yang juga osis mengikuti wawancara oleh konseling untuk pemilihan calon ketua osis.
“Siapa aja yang ikut wawancara?” aku bertanya pada Rahel, dia itu pengurus organisasi temenya osis.
“Sepuluh pengurus osis pilihan” jawabnya singkat, pasti, dan membuatku langsung paham, aku hanya meng-oh saja.
Aku dan Angel pulang bersama naik bus.
“Ngel, menurutmu Rio bisa jadi ketos (Ketua Osis) nggak sih?” ucapku memulai pembicaraan.
“Menurutku sih bisa. Kan dia selalu diandalin di osis” ucapnya pasti, “Kalau dia maju kamu milih nggak?”
“Nggak tahu, lihat sikon” ucapku sedikit tertawa.
“Hahaha” kami tertawa di bus dan menggangu penumpang bus lain.
Keesokan harinya saat pelajaran dimulai Angel menatap ke arahku dengan aneh. Ia memberikan isyarat ke arah jendela. Aku menjadi parno, aku pikir ada monster.
“Van, lihat ke jendela!” ucapnya. Perlahan aku melihat ke jendela. Ternyata ada kakak osis yang menempelkan selembaran kertas pengumuman pqemilihan ketos. Rio menjadi salah satu kandidatnya.
“Iya, aku udah lihat” ucapku pada Angel.
“Ssh… bagaimana mengerjakannya?” batinku frustasi mengerjakan soal bahasa Inggris yang sangat sulit. Tiba-tiba kakak osis mengetuk pintu, aku membukakan pintu. Kemudian kakak osis meminta izin ke guru yang mengajar untuk mempromosikan calon ketos. Setelah diizinkan para calon ketos masuk dan mempromosikan diri mereka. Setelah itu mereka keluar.
“Jadi milih siapa nih?” ucap Angel.
“Nggak tau” ucapku singkat.
Tibalah saat pemilihan ketua osis. Aku tidak memilih dia, aku memilih kandidat lain, tapi suaraku tidak sah. Apalah arti suaraku untuknya? Toh semua memilih dia dan sudah pasti dia pemenangnya.
Suatu hari aku mengetahui isu kedekatannya dengan Kesya adalah benar. Aku mengetahuinya dari temanku yang juga teman sekelasnya Kesya. Aku pikir aku tegar, tetapi hatiku berkata lain. Hatiku tak setegar itu.
Perlahan aku sadar bahwa hubunganku dengan Kesya goyah setelah aku mengetahui kebenaran itu. Keegoisankulah yang menyebabkan itu semua. Kami tak lagi bertegur sapa, aku enggan menegurnya. Aku tak suka dengan hal itu. Perlahan aku singkirkan perarsaan benci pada Kesya. Perlahan pula perasaanku kepada Rio hilang dan hubunganku Kesya membaik.
Hingga saat ini aku aku merasa lebih lega. Meskipun masih tersimpan sedikit perasaan kepada Rio. Biarlah perasaan itu hilang dengan sendirinya. Yang terpenting hubunganku dengan sahabat-sahabatku baik-baik saja. Toh Rio sudah terlanjur benci padaku.

sahabatku direbut olehnya

Hai namaku Sabila Salwa Putri Wahyuhadi cukup dipanggil Salwa
“Salwa bangun! cepat bangun terus shalat subuh” bentak bunda. Aku bangun dan shalat subuh sehabis shalat subuh aku tidur.
Dan paginya aku siap siap mandi, makan lalu berangkat sekolah. Ini hari pertamaku masuk sekolah kelas 3. aku masuk dan perkenalan setelah itu pelajaran lalu istirahat.
Pas istirahat, aku kenalan sama teman-teman yang lain yang paling aku sukai adalah aca, gadis kecil memakai kerudung dengan pipi yang menggelembung.
Sudah 2 minggu aku sekolah disana rasanya sangat menyenangkan apalagi aca, dia sudah menjadi sahabatku sejak 6 hari yang lalu.
“Heh ca kita main bareng yuk!” ajakku pada aca. Tapi, dia tidak menjawab pertanyaanku dan murung dia sangat sedih. Aku juga tidak tahu mengapa dia sedih. Dan aca pun langsung pergi. Aku mengikutinya dan ternyata dia mengkhianatiku. Dia bersahabat dengan silvia ayu musuh terbesarku.
Aku sedih dan langsung pulang ke rumah dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak bersahabat lagi dengan aca. Walaupun sangat berat.
THE END

janji pada hembusan

“HAHAHA..!!” tawa terdengar dari dalam ruangan kelas itu. Suasana akrab antara sesama insan itu sedang terjalin. Selalu. Setiap saat. Tak pernah absen. Karena persahabatan itu abadi hingga nanti. Saat-saat yang paling dinanti. Menghapus penat yang menyesakkan hati. Masing-masing dari mereka saling merindu. Saling mencinta. Mencinta karena Allah. Meski tak satu pun dari mereka yang mengutarakan itu. Namun fakta telah membuktikannya. Suasana yang hurmonis dan saling membahagiakan senantiasa menghiasi diri mereka. Mereka belum beranjak dari tempat duduknya. Mungkin takut. Mungkin cemas. Mungkin ragu. Jika mereka beranjak, mereka selamanya tak bisa bersama..
“Mikum..” ucap seorang gadis bermata coklat berjilbab itu. “Mikum” itu merupakan singkatan dari Assalamu’alaikum. Haha, setelah sadar, dia membetulkan ucapannya.
“Assalamu’alaikum..” ujarnya. Nah, itu baru benar!
“Wa’alaikumsalam. Eh, siapa yah? Anak baru yah? Namanya siapah? Dari sekolah manah? Umurnya berapah? Tempat tinggalnya dimanah? Kesini naik apah? Sama siapah? Udah sarapan? Belum ya? Pasti belum. Di kantin ada nasi, bubur juga ada, terus omelet, burger, bakso. Tapi saran saya sih beli jangan makan bakso pagi-pagi. Ada bawa tas? Baju lengkap? Terus alat tulis adah? Kalau nggak ada, beli aja di kantin. Lengkap kok. Dijamin deh! Okey, silahkan masuk” jelas seorang gadis berkaca mata dan berkulit putih.
Yang dicandai hanya berdiri mematung didepan pintu. Yang mencandai kabur karena takut kepada sang gadis bermata coklat itu akan memukulnya. Dan benar saja, aksi kejar-kejaran pun tercipta. Suara riuh menghiasi kelas itu. Suasana kelas yang sepi sangat mendukung mereka karena belum ramai murid berseragam putih biru itu memenuhi kelas. Karena waktu masih menunjukkan pukul 06.40. bel berdentang jika sudah pukul 07.00. ketika mereka sedang asyik berkejaran, teman-teman mereka yang lain mulai berdatangan. Diantaranya ialah Tya, Alysa, Putri, Salsa, Lizzy, Phia, Icha, Ray, Auja, Heny dan Dhara. Gadis-gadis cantik yang selalu membalut kepalanya dengan jilbab itu mengisi bangku dan menyaksikan aksi kejar-kejaran yang tak kunjung usai itu.
“Heh.. jangan kejar-kejaran di kelas, dong. Jangan buat malu kami keles” Phia mulai membuka suara.
“Iya bener tuh kata Phia. Urusan rumah tangga jangan dibawa ke sekolah juga. Selesaikan di kamar nanti” Alysa mulai menggoda mereka. Seperti biasa.
Sadar bahwa mereka tengah diserang lautan komentar sahabatnya, mereka sepakat untuk balik mengerjai. Sang gadis bermata coklat itu bernama Citra. Nama yang cantik, secantik orangnya. Sedangkan yang satu lagi bernama Asya. Wajahnya imut dan jahil namun baik. Beberapa saat kemudian, mereka semua larut dalam sebuah keceriaan pagi yang sederhana. Memang benar kata orang, tak perlu mencari orang yang sempurna untuk bahagia, cukup cari orang yang mampu membuat kita mengerti bahwa bahagia itu sederhana.
Waktu menunjukkan pukul 07.00. dan bersamaan dengan itu, dering bel mulai bergema. Kebehagiaan membuat mereka tak merasakan apa-apa. Senyum dan tawa kebahagiaan selalu tersungging dalam bibir mereka. Menambah anggun wajah mereka. Masya Allah..
“Udah, ah. Capek tau. Kerasa nggak?” tanya Lizzy.
“Iya. Ih, gila! Capek banget” Salsa menyahut.
“Eh, Sya. Nggak capek apa? Keringet udah segede jagung gini” Putri yang paling kencang berlari mulai mengeluarkan suaranya.
“Halah.. jangan Tanya deh, sama Asya, dia mana kerasa, orang badannya aja kebenyakan lemak. Pasti nggak kerasa” Ray yang terkenal paling jahil di antara mereka mulai menggoda Asya yang terkenal paling memerhatikan kesehatan tubuhnya.
“Hah?! Lemak?! Berarti gendut dong?? Duh.. gimana nih? Eh, bantuin ngapa? Jangan ngehina aja kerjaannya. Eh, Dhara, gendut ya? Banget?” pas seperti keinginan Ray untuk membuat wajah khawatir Asya. Benar-benar usil!
“Iya” ujar Dhara pendek. Ia memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tak terlalu berkomentar atas suatu masalah. Namun sebenarnya ia sangat peduli.
“Ih, Dhara! Komen apa gitu. Jangan cuma bilang iya aja” sahut Auja
“Bener tuh kata Auja, Dhar. Jadi orang tuh jangan kalem gitu. Sok kalem yang ada” Heny membenarkan kalimat Auja sambil menepuk pundak Dhara pelan.
“Kalau aku cerewet, nanti ngalahin Asya. Males, ah bersaing gitu” jawab Dhara dengan wajah polosnya.
Begitulah mereka. Saling membahagiakan. Bercanda. Membuat burung-burung cemburu. Membuat embun pagi itu tak ingin gugur. Membuat daun-daun muda itu makin melekat erat pada sang dahan pohon. Ingin menyaksikan para insan itu bercanda dengan balutan cinta dan kasih.
Pada hari itu, pelajaran dimulai seperti biasa mereka lakukan. Mereka menghabiskan seluruh harinya dengan suatu kebahagiaan yang sulit diartikan dengan kata-kata. Bahagia yang sederhana. Karena mereka yakin bahagia yang berlebihan dapat membutakan hati. Membuat lupa bahwa yang manis itu sementara. Maka dari itu mereka tetap belajar dengan tekunnya. Diiringi oleh tawa tanda cinta kepada sahabat karena-Nya.
Dan kini, kebersamaan semu itu menghantarkan mereka pada saat dimana raga harus terpisah oleh jarak dan waktu. Sebuah perpisahan. Yang membuat tangis haru ketika pakaian toga mulai melekat dalam tubuh mereka dan tali pada topi itu bergeser ke kanan. Itu tangis yang sesungguhnya. Tangis haru. Karena waktu yang singkat dan kebersamaan secara nyata itu harus diakhiri demi menaiki tangga yang lebih tinggi menuju bintang di langit.
“Baiklah, tiba saat yang ditunggu-tunggu. Yaitu penyerahan sertifikat hafalan tahfidz dan penggeseran tali pada topi toga yang mereka kenakan. Kita panggilkan para putri-putri harapan bangsa, yang pertama adalah Putri Salbila! Kepada putri kami persilahkan.” ujar MC memanggil nama putri diiringi sorakan penonton dan tangis haru para sahabat. Yang lain pun menanti gilirannya.
“Yang kedua, Lizzy Az-Zahra!”
“Yang ketiga, Geubrina Ray!”
“Selanjutnya adalah, Asya Humaira!”
“Lalu mari kita panggil, Henyanti!”
“Mari kita panggil, Rauza Shara Salsabila!”
“Selanjutnya, Zahratul Dhara!”
“Alysa Sintia!”
“Phia Delvina!”
“Risa Nurul Hasna!”
“Tya Alicia!”
“Silahkan naik ke atas panggung, Citra Andini!”
“Dan yang terakhir, Syifa Shara Salsa! Dengan berakhirnya pemanggilan para putri SMP Islam Al-Hikmah pada hari ini…”
Acara wisuda telah lama berlalu. Namun 13 wanita itu masih enggan beranjak dari gedung itu. Mengabadikan berbagai foto lalu menatap langit. Mata mereka mulai menghangat. Perlahan meneteskan air mata. Semua orang pasti terhenyuh atas situasi mereka. Hening namun menghanyutkan. Memang pada nyatanya, setiap kepingan kisah itu pasti memiliki ujung.
“Kini tiba saatnya, bukan? Kita akan pergi menuju cita-cita kita masing-masing. Semoga suatu saat nanti, sebuah kisah berujung ini akan mempertemukan kita lagi. Berjanjilah..” lirih Citra.
“Ya, kita semua berjanji” ucap mereka bersama. Sambil merekatkan janji kelingking. Itulah janji mereka. Yang setiap hembusan angin menyaksikannya..

aku kamu dan kita

Aku duduk di sebuah taman dekat sekolah, menulis cerita tentang sebuah kisah persahabatan.
Aku Hera, gadis SMP sama seperti kalian, menyukai musik, membaca novel dan dance. Aku mempunyai sahabat bernama Rani, dia tomboy, menyukai dance, wataknya yang pemarah selalu melengkapi suasana persahabatan kami. Ia sangatlah pintar, selalu mendapat pringkat pertama di antara yang lain, terkadang aku merasa iri padanya, tapi itulah kemampuan orang masing-masing.
Saat ini kami sedang ada masalah, masalah yang membuat persahabatan kami berantakan, cinta memang bisa merusak segalanya. Kami menyukai cowok yang sama, masalah ini memang tidak wajar lagi dikalangan remaja masa kini, yaah..!!! Dan seperti biasa, apalah arti persahabatan tanpa suatu pertengkaran.
Saat ini aku sedang menulis permintaan maaf kepadanya. Aku tidak terbiasa meminta maaf secara langsung apalagi kalau masalahnya sebesar ini. Aku kurang mengerti siapa yang salah, mungkin sudah tradisi jikalau aku yang selalu meminta maaf duluan. Aku yang sedang menulis surat, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundakku.
“puukk..!!!”
Aku terkejut, dan langsung menengok ke arah belakang. “Huuffhh.. bikin kaget aja” ujarku.
Ternyata dia adalah Rico, seorang cowok yang sedang kami berdua masalahkan. Dia sangat populer, dan disegani di sekolah. Wajar saja, Kulitnya yang hitam manis membuat para gadis tergila-gila padanya. Walau aku pernah memendam rasa, tapi apalah dayaku, yang hanya sekedar gadis SMP biasa, jadi aku hanya bisa membuang rasa itu jauh-jauh dan di sisi lain, ada Rani yang juga menyukainya.
“sorry, gue bikin lu kaget ya ting?”
“haaa..? ting?, nama aku Hera kak, bukan ting?” ujarku bingung
“gue tau, tapi suka-suka gue dong, hehe..” jawabnya dengan santai
“hm.. ya sudah deh..”
Dia lalu duduk di sampingku, tapi aku tidak terlalu mepedulikannya, karena aku lagi fokus membuat surat untuk Rani. Kami sudah lama akrab, jadi sudah biasa jika dia berbicara dengan bahasa yang seperti itu.
“lagi nulis apa sih ting?” tanyanya penasaran
“ada deh..”
Sekali lagi aku tidak mepedulikannya karena aku tidak ada waktu untuk mengobrol sekarang. Rico merasa kesal dan lalu beranjak dari tempat duduknya.
“ah.. ya sudah.. lu tu kenapa sih, gak kayak biasanya..? lu cuek banget her.. huuhh..”
Aku hanya tersenyum dan sambil menatapnya. Wajar saja jika aku cuek padanya, karena aku tidak akan ada masalah jika tidak ada dia.
“gue pergi aja deh, gue ganggu kali”
Rico benar-benar kesal, tetapi aku tetaplah menghiraukannya dan akhirnya dia pergi dengan ocehan yang gak jelas.
Tak lama setelah itu, surat permohonan maafku selesai, aku berniat untuk menaruh diam-diam ke dalam tas Rani. Setelah itu, tiba saat bel masuk pun berbunyi, “teng teng..” semua murid pun langsung masuk, dan langsung memulai pelajaran seperti biasa.
Tak terasa hari sudahlah sore, bel pun lalu berbunyi 3 kali, “teng teng teng…!” pertanda jam belajar hari ini pun telah usai. Aku segera membereskan buku-bukuku yang berserakan di atas meja. Tiba-tiba Rani datang, matanya sembab seperti habis menangis.
“Heraa…”
“Rani.. kamu kenapa?!” ujarku panik
“maafin aku.. aku tidak bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu. Aku yang salah.. aku nyesel heraa.. maafin aku…” rani pun menangis dan langsung memelukku.
“iya, aku yang salah, aku gak bisa jadi sahabat yang terbaik buat kamu.. maafin aku juga ya ran..”
Akhirnya kami berdua pun berbaikan, kami mengucapkan janji persahabatan. Sejak itu kami pun saling bisa mengerti satu sama lain, dan kami pun sadar bahwasannya sahabat lebih berarti dari pada cinta. Dan sekali lagi apa arti sahabat tanpa sebuah pertengkaran.. Jangan sia-sia kan sahabatmu, walau kesalahan yang telah ia perbuat setidaknya kau pernah tersenyum bersamanya.
Tamat

senja di tepian pantai

Ari dan Adit duduk di sana, bertolak dengan datangnya ombak pasang yang bergulung-gulung menyentuh kaki-kaki mereka, menjebak pasir di sela jari-jarinya. Keduanya menatap bena dalam kebisuan, tercekik kecanggungan dan terjebak sejumput pertanyaan.
Mereka lihat perahu-perahu yang mengambang serupa siluet, terus menjauh dan menyisakan titik semu. Kekosongan mata itu juga tertuju pada nelayan yang mendorong pinisi lalu naik ke atas perahu kayu yang hilang keseimbangan sedetik. Bunyi motor tempel di punca mendesing, merobohkan keindahan suara pantai. Para nelayan bersarung yang urung melaut pilih kembali, agak sangsi dengan cuaca sore itu. Adapun nelayan lainnya yang memasang sirap dan dek, juga membuat pasa pada perahu-perahu setengah jadi. Ari dan Adit ingat masa lalu, saat tak sengaja tidur di atas geladak dengan satu nahkoda bertubuh sintal, tiba di tengah laut dalam kondisi terombang-ambing ditubruk ombak. Saat itu Adit tak kuat, dia muntah kuning setelah rasa mual menjalajahi perut sampai tenggorokan. Demi mengurangi kesengsaraan itu, Ari memberinya hati ikan kaci-kaci.
“Jadi, kau tidak membual akan berangkat ke sana? melewati laut ini?” wajah Ari menunjuk luasnya lautan yang tanpa ujung. Seperti garis semu di mana matahari mulai merangkak untuk sembunyi.
Adit mengangguk. “Esok, aku akan mengarungi langit dan melihat samudera dari atas sana.”
“Dulu kau pernah mabuk laut, kau tahu jarak teluk ke tengah hanya sepelemparan batu? lalu bagaimana kau akan tenang duduk di dalam burung besi selama 17 jam?”
Senyum Adit terkulum gugup. “Nanti, setelah aku mencobanya, akan kuberitahu jawabannya.”
Mereka kembali membisu, menatapi biasan larik cahaya matahari yang oranye, menjalar di permukaan air laut dengan riaknya yang tak henti-henti. Bau amis menguap di udara, membelai lubang hidung lalu membungkus beberapa aroma. Sekelompok rajungan mulai mengungsi, undur-undur mencari teritori teraman lalu tubuhnya melempas ke dalam pasir, kepiting merah merayap di batang-batang pohon kelapa yang sedang menari-nari. Di angkasa, Trinil sedang membentangkan sayap mereka, sama besarnya dengan bentuk pesawat nun jauh di sana. Segala pemandangan di sana memang anugerah, tapi entah mengapa Ari merasa sadah.
Apa pun yang dilihat mereka saat dewasa akan sangat berbeda dengan segala sudut pandang sewaktu kecil dulu. Saat senja, duduk di tepian pantai sambil membakar belacak di atas serabut kelapa adalah hal yang membuat masa kecil mereka bahagia. Lalu sambil menatapi keelokan sore hari, mereka bakal bercerita, menebak-nebak bagaimana Sir. Thomas Stamford Raffles bisa terpesona akan keeksotisan pulau jawa. Mereka juga kerap membacakan puisi Jalaludin Rumi. Kala matahari mulai menerungkup dan langit pekat membentang, Ari akan membaurkan pasir ke atas arang sisa pembakaran, sementara Adit memanggul ikan-ikan sebesar kelingking. Lalu mereka akan meninggalkan satu jejak di sana: sebuah kebersamaan.
Dua lengan Ari menopang tubuhnya yang baru bergeming setelah beberapa saat membatu. “Kenapa harus Belanda, kau tidak tahu kalau negara ini pernah dijajah olehnya? memalukan saja.”
Senyum sungging Adit menggelap di hari yang mulai pekat. “Kau pernah merasa malu, belajar pada seseorang yang pernah kau musuhi?”
Sedetik pandangan mereka beradu. “Harus kupertimbangkan dulu, siapa musuhku itu. Kalaupun hubungan kami tak harmonis, apabila dia lebih unggul dan punya wawasan jauh di atasku, maka mau tak mau aku perlu menghilangankan ego sedikit untuk belajar ilmunya.”
Bibir Adit mengulas senyum tak biasa. “Kau sudah tahu jawabannya kalau begitu.”
Mereka diam lagi. Gemuruh ombak seolah menghantam perasaan masing-masing, lantas menenggelamkan kenangan-kenangan masa lalu.
Adit menggenggam pasir pantai, lalu membaurkannya, menggenggam lagi, sampai akhirnya menepuk-nepuk tangan, kemudian ia tumpukan di kedua lutut.
“Kelak, saat aku sampai di sana, kau juga akan termotivasi supaya bisa mencoba melihat pantai ini di balik gumpalan awan.”
Sekali lagi Ari menunduk, tak kuasa memandangi apapun di hadapannya. Dia terlalu takut, bahkan untuk sekadar bermimpi.
“Mimpiku tak seperti mimpimu, Dit. Kau itu bermimpi sambil berusaha merealisasikannya. Sementara aku, bisa bermimpi saja sudah bersyukur.”
“Ada yang tak kau ketahui Ri, kalau Tuhan tak pernah membatasi mimpi-mimpi hamba-Nya.”
Mata bulat Ari menatap air yang sekali lagi menyentuh kaki, lalu kembali surut dalam sekejap. Sinar oranye matahari memantul di manik hitamnya.
“Tapi aku itu hidup dalam serba keterbatasan. Ekonomi yang terbatas. Kemampuan yang terbatas. Dan dukungan yang juga terbatas. Kau tahu sebatu apa Bapa’ dan secemas apa Ama’? kedua orangtuaku bahkan tidak akan pernah mendukungku.”
“Ada satu hal yang kau lupa, kau harus merendahkan diri meminta dukungan Tuhan. Setelah itu hambatanmu mudah-mudahan bisa kau lewati.”
Keduanya saling tenggelam dalam desau angin, menyapu nyiur yang melambai.
Sebentar lagi Adit akan bertolak meninggalkan daerah pesisir yang bau amis menuju kawasan kota penuh ingar bingar. Bukan di Indonesia, melainkan ia akan melintasi samudera ke negeri Belanda. Seorang anak pesisir yang punya mimpi besar dan berhasil mewujudkannya.
Ari ingat bagaimana perjuangan mereka setelah menangkap ikan, kerang dan beberapa rajungan, lalu menghitungnya di atas birai batu. Dia juga ingat saat memakan ransum bersama di bawah atap rumbia kala hujan mengguyur pantai.
Sungguh, Ari merasa bahagia melihat sahabatnya mampu meraih keinginan yang telah lama diimpikan. Adit bahkan belum mengangkat kakinya dari desa, namun pikiran maupun perasaan Ari didera seribu kekosongan. Mereka pernah melangkah bersama, bermimpi bersama, dan tumbuh bersama. Tapi nyatanya, nasib mereka berbeda. Bukan, bukan karena Adit berasal dari keluarga kaya dan Ari hanya dilahirkan dari keluarga biasa. Ini semua karena usaha dan tekad serta dukungan dari orangtua yang belum berhasil ia rengkuh. Selain kesempatan yang telah digariskan Tuhan.
Benar kata Adit kalau Tuhan tak akan pernah membatasi mimpi ia sebagai seorang hamba. Semua di dunia tak ada yang tak mungkin.
“Besok, kau berangkat jam berapa?” tanya Ari yang kini mulai merebahkan diri usai melemparkan cangkang kosong, meluruskan kakinya, lalu menatap ke warna yang membias di langit senja.
“Jam sepuluh. Kau berniat mengantarku, Ri?” Adit berceloteh sambil menyenggol pinggangnya.
“Tidak. Aku cuma ingin memastikan. Sepertinya kau juga sudah hapal betul jalan dari sini menuju bandara,” Ari berdalih.
“Semoga kau tidak menyesal, karena aku akan pulang tiga atau empat tahun lagi.”
Ari cuma tersenyum. Waktu yang sangat lama, dan entah Adit masih mengingatnya atau tidak. Karena saat itu datang, mungkin saja mereka berada dalam status yang jauh berbeda.
“Tenang saja! Tak usah selama itu, aku pasti akan segera menyusulmu ke sana.”
“Baiklah, akan kupegang kata-katamu. Nanti biarkan aku berkelana mencari universitas unggulan di Belanda maupun Eropa.”
Keduanya saling tertawa. Ari memang hanya menganggapnya sebagai gurauan, tapi tidak dengan Adit. Dia amat berharap kalau itu akan menjadi kenyataan. Menikmati waktu berdua di negara orang pasti akan membuat jalinan persahabatan mereka terasa istimewa. Sekaligus menciptakan sejarah baru sebagai anak pesisir.
Sesaat sunyi mengekang jiwa mereka. Rongga dada keduanya menegang didera rasa rindu meski masih berada di ruang yang sama. Dua linang air mengisi rongga mata, jatuh menimpa buliran pasir yang berubah jingga. Bayangan-bayangan itu membuat sudut-sudut mata keduanya jadi tiras. Duduk di atas dek kayu berbagi sekepal nasi asin, menyusup ke dalam lambung perahu, memanggang tubuh di atas birai batu, atau bergantian menuang air dari perigi, berburu rajungan, dan menghitung jumlah migrasi burung di musim penghujung. Seketika pikiran keduanya melepuh, bahkan ingat masa lalu membuat mereka semakin terbelenggu. Suara isak keduanya tenggelam dalam bunyi gulungan ombak yang samar menghantam keras bagian terdalam, yang entah di mana.
“Kau pasti kembali ‘kan Dit?” wajah Ari yang mengilat berubah merah dan mengeras. Ketakutannya melebihi ketakutan saat gulungan ombak membalikkan perahu mereka kala menyusup untuk ikut melaut.
Adit mengulum bibir —menahan tangis. “Aku pasti kembali, ke desa ini, ke tempat ini. Kau tak perlu cemas.”
Keduanya saling melepaskan pelukan. Rasa haru mendera sampai ke puncak kepala. Air mata mereka meleleh, turun membasahi puncak pundak masing-masing. Beberapa menit tenggelam dalam regukan perasaan yang menyesakkan, keduanya saling melepas pelukan. Adit mengeringkan wajah basah Ari dengan dua telapak tangannya.
Keduanya tersenyum.
Kini, garis cakrawala membentang di ujung samudera. Warna kemerahan senja mengusik waktu yang semakin menua. Mereka duduk tergelak di sana, memandang ke arah ufuk barat tempat sinar matahari senja semakin menyusut. Alunan sepoi angin pantai melunakkan hitam putih memori. Ari dan Adit tahu, di sana bukan untuk duduk semata, karena saat senja datang, hari esok akan tiba menjelang. Kenangan hari ini terlewat, malam naik ke peraduan menyulap suasana jadi memilukan. Tapi sungguh, setidaknya di tepian pantai mereka dapat melihat kebesaran Illahi dalam memutarbalikkan bumi. Keajaiban yang tak terperi. Dan mereka wajib mensyukuri.
“Ketika tiba saat perpisahan, janganlah kau berduka, sebab apa yang paling kau kasihi darinya akan nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.”

diabetes

“Lagi ngapain, Gy?” aku duduk mensejajarinya.
“Liat danau.” Dia tidak menoleh sama sekali.
“Aku tau, Gigy sayang. Kok murung? Jelek tau, kaya ayam pengen kawin aja.” Aku tertawa.
Dia hanya diam, dan menarik nafas panjang.
Baiklah. Aku mengerti, dia sedang menikmati rasa kecewanya.
“Sakit gak sih, Tan?” dia mulai mencairkan hening.
“Sialan!” Aku menimpuknya.
“Apaan?” wajahnya keheranan.
Aku memasang muka sok sebal. “Lu manggil nama ujung gue kesannya gue ini setan.”
“Eh sorry sorry.” Dia tergelak. “Lagian nama lu kepanjangan, gue susah nyari nama pendeknya. Ya enaknya itu, Tan. Haha” dia tergelak lagi.
“Meskipun nama gue aneh, tapi kan orang-orang udah pada biasa manggil gue Tatan, Gy. Bukan Tan nya aja.” Aku mendelik.
“Hmmeeh.” Dia menghela nafas. “Ok Selatan Putri Nur Jaman.” Dia tersenyum menatapku.
Semoga kamu lupa dengan kepura-puraan kamu. Aku balas tersenyum.
“Masih kecewa, Gy?” aku bertanya hati-hati.
“Sedikit. Tapi sudahlah. Aku bisa apa. Ini kenyataannya.” dia menatap danau di depannya.
“Ikhlaskan saja, Gy. Semoga akan digantikan oleh yang lebih baik.” Dia menoleh, aku tersenyum berusaha menghiburnya. meyakinkan dengan kata-kataku tadi.
Aku tau rasanya dikecewkan, diberi harapan, tapi semuanya hanya angan. Dan terhempas begitu saja bagai debu. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku mengingat namanya. sudahlah. Semua sudah berjalan terlalu jauh.
“Aku juga pernah di posisi kamu.” Lanjutku. “Semua laki-laki sama saja.” aku menghela nafas.
“Hanya wanita yang berhati sempit menilai semua laki-laki sama saja brengseknya. bukankah ayahmu pun laki-laki? Bahkan adikmu.” ucapnya terdengar bijak.
“Aku lega kamu telah mengikhlaskannya, Gy.” Aku tersenyum, merangkul bahunya. “Itu yang ingin aku dengar. Semoga rasa itu cepat hambar ya. Kalau udah waktunya nanti, pasti bakal terjadi.”
“Iya, Sel. Aku juga berharap begitu.” Gigy menarik nafas.
Posisi wanita kadang menyulitkan. Tapi seorang yang dapat belajar, dia akan membentengi diri oleh pelajarannya di masa lalu. Semoga ini tidak terulang lagi.
“Dipikir-pikir lu kurang apa coba?” aku mengamati Gigy.
“Iya, ya kurang apa gue? Sampe tega dikasih harapan manis gitu. Jadinya diabetes kan gue.” Gigy nyengir.
“Diabetes keseringan makan harapan manis mulu sih lu.”
Kami tergelak tertawa bersama.
Sejak saat itu, kami sangat berhati-hati untuk berteman dengan makhluk yang bernama laki-laki. Kami hanya berteman sewajarnya. Semua rasa kecewa itu tidak ingin lagi kami rasakan.
Cianjur, July 2010